Habib Umar Terangkan Tiga Tujuan Ziarah Kubur Menurut Imam Nawawi

0
373
Habib Umar Al-Muthohhar Semarang

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Wakil Mudir Aam Jam’iyyah Ahlith Thariqah Mu’tabarah Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah (JATMAN), Habib Umar Al-Muthohhar, menerangkan tiga tujuan utama ziarah.

Menukil pendapat pengarang kitab Riyadlush Sholichin, Imam Nawawi, keterangan itu ia sampaikan dalam tausiyah pada Haul Syaikh Abdul Basith Sudimoro Karangmalang, Kecamatan Gebog, Selasa (09/07/19) malam.

Dijelaskannya, menurut Imam Nawawi RA, tujuan ziarah kubur ada tiga macam. Di antaranya mengingatkan diri tentang kematian, melaksanakan hak dan kewajiban, serta untuk mendapatkan berkah. “Pertama, supaya ingat mati (dzikrul maut). Ini bisa di mana saja. Pekuburan china. Kristen. Dan segalanya,” ungkapnya.

Hanya saja, jelasnya, apabila ziarah di pekuburan (makam) orang non-muslim, tidak diperbolehkan kirim doa. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan mengunjungi pekuburan non-muslim,  tetap mengingatkan seseorang akan adanya kematian. “Kedua, ziarah untuk melaksanakan hak dan kewajiban sebagai manusia. Contohnya, ziarah ke makam kedua orang tua dan guru,” paparnya.

Habib Umar menyebut, ziarah ke makam kedua orang tua dan guru, termasuk keharusan, sebab mereka yang telah mengasuh secara zahir maupun batin. Demikian itu juga sebagai bentuk takdzim dan balas jasa. “Jangan sampai rajin ziarah ke makam-makam wali, tapi makam orang tuanya tidak pernah dikunjungi,” pesannya kepada jamaah.

Tujuan ziarah ketigam yaitu agar mendapat berkah. Ketiga hal ini bisa didapat ketika berziarah ke makam para wali dan orang-orang saleh. “Saya pernah didawuhi Habib Ahmad Yogyakarta: kamu kalau ziarah di makam orang saleh atau wali Allah, itu ibarat kamu mengisi ember yang sudah penuh,” jelasnya.

Habib Umar menambahkan, sebuah wadah yang sudah penuh dan masih diisi, tentu akan meluber kepada yang mengisinya. Luberannya itulah yang dinamakan berkah ziarah ke makam para wali. “Hanya saja, luberan keberkahan itu tidak bisa dirasakan secara langsung. Tapi pasti ada pertandanya,” tuturnya.

Salah satu pertandanya, kata Habib Umar, ketakwaan seseorang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meningkat, dan akhlak kepada sesamanya lebih baik. Yang tadinya malas beribadah, akan semangat. “Apalagi kita semua ini ada wadah Nahdlatul Ulama. Singkatannya NU. Tugasnya nuntun umat,” terangnya.

Habib Umar juga menjelaskan, sebuah desa yang ada makam wali, termasuk desa pilihan. “Tidak mungkin Allah menempatkan kekasihnya di tempat yang tidak baik,” ujarnya dalam pengajian yang juga dihadiri Habib Muhammad bin Abu Bakar Assegaf, Habib Ahmad bin Abu Bakar Assegaf, Habib Idrus dan sejumlah tokoh NU. (rid/ adb, ros)

Comments