Rayakan HUT ke-24, UKM KPN Ajak Sinau Bareng Sabrang Noe

0
230
Sabrang Noe menghadiri perayaan HUt UKM Pecinta Nalar IAIN Kudus

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Dalam rangka memperingati HUT ke-24, Unit Kegiatan Mahasiswa Kelompok Pecinta Nalar (UKM KPN) IAIN Kudus mengadakan Sinau Bareng Bersama Sabrang Mowo Damar Panuluh alias Noe.

Ngaji bareng bertema “Dari Intelektualitas Menuju Spiritualitas” bersama vokalis Letto ini berlangsung di depan Perpustakaan IAIN Kudus, Senin (14/11).

Dalam kesempatan itu, Rektor IAIN Kudus, Abdurrahman Kasdi mengapresiasi kegiatan sinau bareng yang diselenggarakan oleh UKM KPN. Menurutnya kegiatan seperti ini perlu digalakkan lebih oleh organisasi mahasiswa.

“Kampus menjadi lebih hidup dengan kegiatan kegiatan kemahasiswaan seperti ini. Ini bisa meningkatkan Intelektualitas dan daya saing mahasiswa,” katanya.

Kasdi pun mengajak organisasi mahasiswa dan UKM lainnya agar tergugah dan terinspirasi supaya bisa menjadikan dinamika kegiatan mahasiswa lebih semarak dan berkualitas.

“Harapannya, UKM di kampus semakin matang dan berdaya saing baik di internal maupun di luar kampus,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua UKM KPN IAIN Kudus, Silviana Sari mengungkapkan inisiatif KPN mengundang Sabrang Noe dalam kegiatan sinau bareng ini bertujuan untuk mengenalkan mahasiswa supaya tidak lupa terhadap nilai-nilai spiritualitas.

Apalagi, kata dia, banyak mahasiswa yang lebih tertarik kepada dunia Intelektual dan sains sehingga meninggalkan nilai spiritual mereka.

“Kami mengajak mahasiswa dan masyarakat umum untuk sinau bareng, mengulas nilai-nilai spiritualitas dan Intelektualitas dalam waktu yang bersamaan, terlebih Noe itu punya rekam jejak dan pengalaman yang luar biasa di bidang itu,” ujarnya.

Menyinggung tema yang diangkat dalam sinau bareng itu, Sabrang memaparkan bahwa Islam sendiri tidak hanya berkutat pada hal-hal yang bersifat spiritual saja. Melainkan juga berkaitan dengan sosio engenering atau proses sosial yang di dalamnya membahas banyak hal: intelektual, adab, wisdom, dan sebagainya.

“Tolak ukur setiap manusia juga berbeda, dan manusia diberikan kemampuan berbeda-beda dari tuhan. Intelektualnya tinggi belum tentu spiritual nya juga tinggi. Ini sudah dua hal yang berbeda. Bahkan Islam sendiri meletakkan yang paling atas itu bukan intelektual atau spiritualnya, tapi kebermanfaatanya. Khoirunnas Anfa’uhum linnas,” paparnya.(sim/adb) 

Comments