
KUDUS, Suaranahdliyin.com – Ahad (5/7/2026) sore, sekira pukul 16.20 WIB, ribuan umat Islam dari berbagai kota memenuhi masjid jami’ Baitussalam, Jekulo Kauman, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus.
Bahkan, banyak juga yang berdiri di depan masjid hingga meluber ke jalan-jalan di sekitar masjid tersebut, menantikan jenazah KH Muhammad Afif, pengasuh pondok pesantren al Hanafiyah Jekulo, yang wafat pada Ahad pagi.
Setelah beberapa waktu menunggu, jenazah KH Muhammad Afif yang tak lain adalah Putera dari KH Chanafi nampak dibawa dari rumah duka menuju masjid untuk disalatkan.
Tak pelak, para pelayat yang datang untuk takziyah itu segera merangsek dan memenuhi masjid, untuk mengikuti salat jenazah. Masjid penuh sesak, dan nyaris tak bisa menampung para pelayat yang datang.
Setelah disalatkan, jenazah KH Muhammad Afif kemudian dimakamkan di kompleks makam keluarga yang berada di sebelah barat masjid, diiringi doa anggota keluarga, sahabat, mahasiswa, para santrinya dan juga masyarakat luas.
Kiai, Akademisi dan Aktivis
KH Muhammad Afif, bagi publik di Kabupaten Kudus bukanlah sosok yang asing. Pasalnya, almarhum adalah sosok yang kiprahnya cukup komplet.
Kiai Afif merupakan seorang kiai yang mengasuh Ponpes al Hanafiyah Jekulo melanjutkan perjuangan ayahandanya, yakni KH Chanafi (Putera menanti KH Yasin, pendiri Pondok Bareng/ Al Qoumaniyyah).
Selain itu, Kiai Afif juga dikenal sebagai akademisi dengan kiprahnya sebagai dosen di UIN Sunan Kudus, yang tentu saja semasa khidmahnya di kampus tempatnya mengajar, mesti menjalani Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Di luar itu, Kiai Afif juga seorang aktivis. “Pak Afif itu aktivis sejak muda. Beliau pernah menjabat Ketua Pimpinan Cabang (PC) IPNU Kabupaten Kudus periode 1993-1996,” terang H Agus Hari Ageng.
H Agus Hari Ageng yang merupakan sekretaris PC IPNU Kabupaten Kudus di masa kepemimpinan Kiai Afif, mengemukakan, bahwa Kiai Afif adalah sosok aktivis yang patut menjadi teladan.
“Pak Afif itu profilnya sangat bersahaja, sumeh, dan sangat sederhana,” kenangnya kepada Suaranahdliyin.com di sela takziyah, kemarin.
“Beliau juga seorang pejuang sejati. Selama menjabat ketua PC IPNU Kudus, berusaha mengakomodasi anggota baik dari jalur pelajar murni maupun santri Ponpes. Yang berat, tentu karena di awal kepengurusannya, Pak Afif meniti karier sebagai dosen yang ditugaskan di Pekalongan. Namun begitu, tetap menjalankan tugas kepemimpinannya dengan baik,” terangnya.
Diakui oleh H Agus Hari Ageng, sosok Kiai Afif menjadi daya tarik tersendiri bagi para santri, untuk bergabung menjadi anggota IPNU. “Kealimannya tidak diragukan. Terbukti, setelah menjabat ketua IPNU, selanjutnya Pak Afif dipercaya sebagai Katib Syuriyah PCNU Kudus mendampingi KH Baqir,” jelasnya.
Keteladanan Kiai Afif lain, terang H Agus Hari Ageng, adalah pribadinya yang santun, kalem, tegas, dan sangat kental kesantriannya. KH Afif adalah aktivis organisasi, kiai, dan akademisi yang luas wawasannya dan sangat terbuka.
“Selama menjadi dosen di IAIN Kudus (kini: UIN Sunan Kudus), Pak Afif juga aktif sebagai pembina Pramuka di kampus. Pernah juga ikut Kursus Pembina Pramuka Mahir tingkat Lanjutan (KML) bagi para pembina Pramuka perguruan tinggi di Bengkulu,” katanya. (ros, gie/ adb)









































