Ramadan: Kekuatan Transformatif

0
111

Oleh: Dr KH Muchotob Hamzah MM

“Transformative capacity” (daya ubah) dari shiyam dan qiyam Ramadan selain pahala yang tak terukur (Bukhari 1904; Muslim 1151), bonusnya adalah sebagai wasilah zikir dan fikir (QS. 3: 191-5) yang intens dan fokus bagi yang mampu menjalaninya.

Dari titik ini, muslim berproses menuju iman sejati (mukminuuna haqqan, QS. 8:4) alias takwa. Proses yang sejak era Nabi Muhammad dan seharusnya berlanjut ke depan, memiliki implikasi yang sangat dahsyat. Jiwa “ma’iyyatullah”-nya sedemikian rupa, sehingga Allah memberikan berbagai derajat yang mulia.

Adapun sabab nuzul dari ayat “mukminuuna haqqan” (orang beriman sejati) yang melukiskan dahsyatnya keimanan ini, menurut Sahabat Ibnu Abbas adalah berkaitan dengan perang Badar, yang terjadi pada Ramadan 2 H. Sebuah kemenangan umat yang sangat fenomenal, karena mereka dalam posisi defensif. Dan Islam tidak pernah disiarkan dengan pedang. Sementara jumlah pasukan mereka lebih kecil yaitu 313 versus 1000 dan perlengkapan perang mereka yang minim.

Gambaran iman mereka jika dikaitkan dengan taksonomi iman dari Imam Al-Ghazali, adalah kategori iman orang ‘arief. Imam Al-Ghazali membagi iman menjadi tiga tingkatan (tiga ‘ain). 1). ‘Awam; 2). ‘Alim; 3). ‘Arief.

1). Iman ‘awam. Yaitu iman yang tidak berbasis dalil baik naqli maupun aqli. Iman yang ikut-ikutan. Inilah sebabnya di bidang tauhid atau keimanan oleh kalangan Aswaja (Asy’ari-Ma’turidi) bagi setiap mukmin tidak boleh bertaqlid. Sebaliknya, bahkan diwajibkan mengetahui dalil Naqli dan Aqlinya, meskipun secara minimalis. Iman ‘awam ini ibarat rapor sekolah nilainya 6,0 ke atas.

2). Iman ‘Alim. Adalah iman yang berbasis dalil baik naqli maupun aqli. Dalam hal ini, argumentasinya dapat memperkokoh keimanannya. Iman ‘alim ini ibarat rapor sekolah nilainya 8.0 ke atas.

Contohnya dalam ideologi Aswaja, seorang muslim tidak boleh taqlid memaknai ayat mutasyabihat sebagaimana memaknai ayat muhkamaat. Misalnya ayat “Kullu syai’in haalikun illaa wajhahu”= Segala sesuatu akan hancur kecuali “Wajah” Allah (QS. 28: 88), ini gambaran sebuah tafsir skriptural. Tafsir jni mengandung konsekuensi yang fatal. Karena jika tafsir itu dipakai, lalu bagaimana nasib “Yadullah”=tangan Allah QS. 48: 10?

Demikian juga nasib “Mata” Allah (QS. 11: 37). Adakah “Tangan dan Mata Allah” akan rusak? Maka Aswaja mengharuskan makna yang lebih sesuai dengan kesucian dan kesempurnaan Allah, berarti segala sesuatu akan hancur kecuali Dzat-Nya.

Tetapi ada yang tidak setuju dengan bertanya seperti itu? Umat dibiarkan bingung dengan Al-Qur’annya. Jadilah nasib keimanan umat Islam akan seperti keimanan Dr Y Verkuil. Dalam bukunya “Aku Percaya” dia mengatakan: “Tritunggal itu ketiga-tiganya satu hakikat juga, yaitu Allah. Haram untuk mempertanyakannya. Jadi, hanya mewajibkan untuk diimani.

3). Iman ‘Arief, adalah iman yang sudah bisa memosisikan diri dalam abc hidupnya selalu bersama Allah. “Wa huwa ma’akum ainamaa kuntum”=ma’iyyatullah=ma”iyyah ma’a Allah (QS. 57: 4). Memang dalam hadis pun tidak diperkenankan mempertanyakan Dzat Allah (Al-Hafidz As-Suyuthi, Ad-Durrul Mantsur; Ibnu Abu Hatim, Al-Maraasil, nomer 336; dll.). Tetapi tidak berarti menolak arti yang sesuai dengan ke-Uniqan Allah Yang Tiada Banding. Iman ‘arief ini ibarat rapor sekolah nilainya 10,0 in sya’a Allah!

Sekali lagi, keimanan tanpa taqlid adalah misi dakwah para ulama dan ilmuwannya. Keimanan tanpa taqlid inilah yang telah menransformasi para ulama dan ilmuwan muslim klasik, sampai abad pertengahan, di bidang saintek.

Ini dibedakan dengan soal fikih yang boleh taqlid, karena cakupan fikih yang menjangkau ibadah ghairu mahdhah. Fikih yang wajib bagi umat adalah yang menyangkut ibadah mahdhah. Jika tidak, apakah setiap muslim wajib berijtihad dalam fikih politik, fikih pemerintahan, fikih MLM dan lainnya? Paling tinggi, mereka hanya ittiba’. Wallaahu a’lam bi al-shawaab. (*)

Dr KH Muchotob Hamzah MM,

Penulis adalah ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Wonosobo.

Comments