Muskerwil NU Jateng
Prof. M Nuh DEA : Siapkan Rumah Besar NU

0
451
Prof.M Nuh (tengah) berbincang dengan peserta Muskerwil usai menjadi pembicara halaqoh PWNU di MAJT Semarang kemarin

SEMARANG,Suaranahdliyin.com – Memasuki abad ke-2 Nahdlatul Ulama harus mulai membangun “rumah” yang lebih besar. Hal itu disampaikan oleh Rais Syuriah PBNU Prof. Dr. Mohammad Nuh, DEA dalam Halaqoh Muskerwil PWNU Jawa Tengah di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Kamis (10/02/22).

Menurut Prof. Nuh, banyak sekali potensi dan SDM (sumber daya manusia) yang mengalami tren positif perlu diwadahi oleh NU. Pada bidang pendidikan saja, sudah banyak kader NU yang berperan dan berprestasi di dalam maupun luar negeri.

“Diaspora itu kalau tidak kita siapkan rumah besar, jangan salahkan kalau mereka indekos ke yang lain,” katanya.

Untuk itu, ia meminta kepada pengurus NU agar tidak hanya bekerja profesional. Namun juga memiliki pandangan global dan istiqomah.

“Ke depan, kita tidak cukup kalau hanya memiliki kecerdasan emosional, spiritual dan intelektual. Tapi juga perlu kecerdasan digital yang dengannya kita perlu merangkul anak-anak muda,” ujar dia.

Selama ini, imbuhnya, kita sering mendiskusikan kekhawatiran terhadap paham ekstrimis. Padahal sejatinya bukan itu yang jadi masalah.

“Dalam kurva sosial, adanya ekstrimisme kanan maupun kiri itu normal. Yang penting moderasi ini terus kita besarkan. Fokus itu saja,” bebernya.

Prof. Nuh menambahkan kalau gerakan Aswaja terus diperkuat dan wariskan kepada generasi penerus, ia yakin jika nalar moderat akan terus tinggi dan ekstrimisme tidak bisa berkembang. “Penting fokus saja bangun rumah NU yang lebih besar agar generasi kita tidak lari,” sebutnya.

Senada, Ketua BAZNAS Prof. Dr. Noor Ahmad, MA, menanyakan kesiapan peserta sekaligus pengurus NU se-Jawa Tengah untuk menyambut abad ke-2. Utamanya perihal bonus demografi yang akan didapatkan pada kisaran 2035.

“Mau diarahkan ke mana dan seperti apa bentuk SDM kita nantinya, itu yang penting diperhatikan,” tandasnya.

Ia kemudian mengungkapkan sikap optimis setelah melihat paparan dari tiga PCNU terbaik dalam bidang masing-masing. Yakni PCNU Magelang, PCNU Blora dan PCNU Cilacap. Semuanya sudah mampu merespons kebutuhan masa depan.

“Kalau boleh menyarankan saya harap agar semua bisa belajar kepada tiga PCNU tersebut dalam bidang ekonomi, pertanian dan pengelolaan dana umat,” pintanya.

Rumah besar kita nantinya, imbuh Prof. Noor Ahmad, membutuhkan gerakan dan pelayanan yang profesional dan andal. Tentu juga perlu biaya besar, sehingga penting disadari kalau LAZISNU disemua cabang harus diperkuat.

“Kalau Cilacap saja yang penghasilan rata-rata warganya di bawah 500ribu saja bisa sebesar itu. Saya yakin potensi daerah lain tentu lebih besar,” jelas dia.

Sementara itu, akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr. Abdul Ghaffar Karim memberikan wawasan kepada para pengurus NU tentang pentingnya penguatan keaswajaan bagi masyarakat internasional. Ia juga berbagi informasi terkait kondisi sosial agama di Australia dan New Zeland.(M. Farid/adb,ros)

Comments