Menelisik Makna di Balik Tradisi Kupatan

0
1655

Oleh: Mahlail Syakur Sf.

Budaya lokal yang ditinggalkan oleh para leluhur bangsa di Nusantara ini, khususnya di Jawa, sangat banyak dan bervariasi. Mulai dari yang berbentuk bangunan, kesenian, hingga seni tradisi. Salah satu yang tetap bertahan hingga kini, yaitu tradisi Kupatan.

Kupat sebagai kuliner sendiri, memiliki banyak mengandung nilai-nilai pendidikan. Ditilik dari bahannya, janur, yaitu daun kelapa muda, sebagai penanda bahwa manusia yang baik adalah mereka yang siap memberi manfaat kepada yang lain. Dan untuk memberi manfaat kepada orang lain, harus dimulai sejak usia muda. Tak perlu ditunda-tunda.

Dilihat dari segi proses pembuatannya, Kupat membutuhkan keterampilan khusus dan ketelitian, kendati produk ini sangat sederhana. Maknanya adalah, bahwa untuk memperoleh hasil (prestasi), dibutuhkan keterampilan (soft skills) dan mengerjakannya secara serius dan teliti, sesuai tahapan dan prosedur yang berlaku.

Sebab, jika dalam proses pembuatannya terjadi kesalahan atau tidak dikerjakan secara teliti, maka hasilnya tidak akan sesuai seperti yang diharapkan, dan tentunya akan berbuntut pada kegagalan.

Dilihat dari segi isi, hampir dapat dipastikan bahwa isi atau bahan utama kupat adalah beras. Hal ini secara tidak langsung mendidik bangsa agar terbiasa mencintai produksi lokal sebagaimana yang diajarkan dalam fiqh mengenai zakat fitrah.

Sedang dilihat dari segi penyajian, Kupat dimakan dengan cara mengiris (menyobek) janur pembungkusnya dengan alat yang tajam seperti pisau dan sebagainya, bukan dikelupas atau dilepas janurnya.

Ini terkandang makna, bahwa dalam suasana Lebaran, setiap orang harus siap mengakui kesalahan dan memohon maaf kepada orang lain. Meskipun demikian, diperlukan kehati-hatian serta kebijaksanaan menghadapi pengakuan saudara atu temannya, tidak diperkanankan membongkar kesalahan (aib) orang lain secara gegabah.

Dengan bahasa sederhana, bisa dikatakan bahwa tradisi Kupatan merupakan momentum yang sangat efektif sebagai media pendidikan. Melalui tradisi ini, masyarakat berkumpul di masjid atau musala.

Momentum yang mempertemukan masyarakat itu, menjadi menarik karena diwarnai dengan makan bersama kenduren yang dibawa. Tak hanya semarak, nuansa yang nampak pun, kian terasa harmonis. Kebersamaan dan kerukunan begitu terasa dalam tradisi Kupatan itu. (*)

Mahlail Syakur Sf.,

Pemerhati pendidikan dan budaya serta dosen pada Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas).

Comments