Madrasah TBS dan Kurikulum Khas Kiai

0
479

Oleh: H. Nur Said

Alhamdulillah, di Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) saya belajar selama enam tahun. Saya bangga, walaupun harus mengulang selama tiga tahun setamat SMP Negeri, karena di TBS diterima di kelas 1 MTs. Bukan karena memburu ijazah. Bukan juga karena mengejar ingin kuliah ke luar  negeri. Tetapi karena ingin ngganduli sarunge kiai, mengaji, mengaji dan mengaji.

Kalau akhirnya banyak alumninya yang bisa berkunjung dan belajar di luar negeri, bisa jadi pegawai negeri, dosen, peneliti, polisi, TNI atau mandiri jadi pedagang seperti Sang Nabi, itu bonus dari Sang Ilahi; berkah para kiai mendapatkan jalan menjemput rizki. Ya. Di Madrasah TBS Kudus, yang mengedepankan kurikulum khas kiai lah, saya menempa diri.

Apa itu kurikulum kiai?

Kurikulum bukan sekadar mata pelajaran. Kurikulum dalam hal ini, sebagai desain pengalaman belajar. Karena itu, kurikulum bisa dilihat dalam ranah kurikulum sebagai ide, dokumen dan implementasi.

Kurikulum sebagai ide. Sejak awal berdirinya Madrasah TBS, 94 tahun yang lalu hingga sekarang, berawal dari gagasan  para kiai dan para masyayikh dengan fondasi pada nilai-nilai salafiyah ‘ala ahlu al-sunnah wa al-jamaah (Aswaja), dengan corak Islamnya yang moderat (wasathiyah).

Kurikulum sebagai dokumen. Merupakan cerminan ide-ide kiai yang dituangkan dalam berbagai mata pelajaran yang bersumber dari berbagai kitab salaf dan buku-buku sains modern.

Yang menarik, Madrasah TBS mengedepankan sekitar 60 – 70 persen dari berbagai kitab salaf (kitab kuning). Maka dulu banyak para siswanya yang rela mengulang jenjang belajar. Misalnya meski sudah tamat SD atau MI di kampung, daftar di TBS diterima di kelas IV atau kelas V MI TBS. Atau sesudah tamat SMP, rela diterima di kelas I MTs.

Kurikulum sebagai implementasi. Dalam hal ini Madrasah TBS melibatkan tidak hanya puluhan, tetapi hampir setiap guru yang mengajar di TBS, adalah para kiai di kampungnya masing -masing yang oleh Gus Dur disebut sebagai kiai kampung penjaga tradisi.

Karena apa yang terjadi di kelas kalau dilihat dalam perspektif etnografi, kelas mencerminkan komunikasi pendidikan antara murid dan kiai yang sarat nilai ketawadluan, tabarrukan dan juga khidmah ilmiah. Habitus yang terbangun adalah habitus tradisi pesantren, pendidikan khas Nusantara.

Para wali murid kebanyakan memilih Madrasah TBS sebagai tujuan belajar anaknya, tidak muluk-muluk. Ya ingin dekat dan tabarrukan para kiai meneruskan dan menghidupkan nilai-nilai dan tradisi warisan para salafus shaleh pewaris Nabi.

Kalau sekarang para alumninya ada yang sudah belajar ke luar negeri mulai dari Australia hingga Amerika, semenanjung Arab hingga China, bahkan Afrika hingga lima benua itu sebagai bonus Ilahi yang tak bisa dihindari.

Kini di usianya yang ke-94 tahun, Madrasah TBS sudah lengkap melayani semua jenjang pendidikan mulai PAUD, MI, MTs, MA, Pondok Ath-Thullab, Madrasah dinyah Putri (Madipu) hingga jenjang perguruan tinggi melalui Ma’had Aly dengan konsentrasi Ilmu Falak.

Sebagai alumni, kami selalu bangga Madrasah TBS makin berkembang dengan tetap mempertahankan khas jati dirinya. Selamat dan sukses Madrasah TBS Kudus, yang tak lelah meneguhkan nilai-nilai salafiyah untuk membendung radikalisme yang makin mewabah kepada para santri penjaga NKRI. Semoga makin berkah melimpah. (*)

H. Nur Said,

Penulis adalah dosen IAIN Kudus dan Ketua Ikatan Siswa Abuturien (IKSAB) Madrasah TBS Kudus

Comments