Ibda Paparkan Sembilan Strategi Menulis Artikel di Jurnal Ilmiah

0
353
Hamidulloh Ibda, menyampaikan materi dalam Diklat Penulisan PTK, PTS dan Publikasi Ilmiah , kemarin

TEMANGGUNG, Suaranahdliyin.com – Menulis di terbitan berkala seperti jurnal ilmiah membutuhkan strategi agar dapat dimuat. Apalagi sejak 2002, platform jurnal sudah berkonversi menjadi digital melalui Open Journal System (OJS). Maka dibutuhkan trik agar artikel yang disubmit di OJS itu dapat diterima redaksi.

Wakil Ketua I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan STAINU Temanggung, Hamidulloh Ibda, menyampaikan hal itu dalam Diklat Penulisan PTK, PTS dan Publikasi Ilmiah pada Rabu (10/3/2021), hasil kerja sama antara STAINU dan Kantor Kemenag Temanggung.

Menurutnya, ada sembilan strategi yang bisa dilakukan bagi pemula agar artikelnya laik dimuat di jurnal ilmiah. “Pertama, kalau kita mau menulis artikel dan dimuat di jurnal tujuan, pastikan naskah kita sudah sesuai author guideliness dan template yang sudah disediakan di OJS,” katanya.

Kedua, jumlah similarity maksimal 25 persen. “Ini kalau jurnal yang terindeks SINTA. Kalau untuk disubmit di Scopus, maksimal similarity 10 persen,” jelas pemimpin redaksi Jurnal ASNA LP Ma’arif PWNU Jateng itu.

Ketiga, lanjutnya, naskah harus sudah menggunakan aplikasi manajemen referensi. “Ada banyak. Saya mencatat di materi ini ada 18. Tapi yang biasa digunakan yaitu aplikasi Mendeley atau Zotero. Menggunakan aplikasi ini, selain mudah menentukan author guidelines, juga seolah-olah Anda ini penulis profesional kendati jarang menulis,” ungkapnya.

Keempat, jumlah sitasi harus melebihi standar di template. “Kalau di template menyarankan 20, misalnya, ya sebisa mungkin lebih, 40 atau 50 sitasi. Itu pun harus artikel jurnal atau buku baru. Jangan kutip literatur lebih dari 10 tahun ke belakang,” paparnya.

Kelima, memperbanyak rujukan dari jurnal internasional, utamanya yang sudah Scopus, WOS atau Thomson Reuters. “Jadi (disarankan) tidak hanya mengutip rujukan dari jurnal atau buku berbahasa Indonesia saja. Perlu kutipan dari jurnal-jurnal internasional bereputasi,” bebernya.

Keenam, merujuk atau mengutip artikel di jurnal yang kita tuju untuk kita submit. Misalnya mau mensubmit di jurnal XX, ya beberapa artikel di jurnal XX harus kita kutip. Ketujuh, merujuk (mengutip) artikel para editor (reviewer) di jurnal yang dituju. “Ini lebih pada menghargai keilmuan para reviewer di jurnal yang kita tuju, agar jumlah sitasinya di Google Scholar juga bertambah,” tuturnya.

Kedelapan, mensubmit jurnal dua atau satu bulan sebelum masa terbit. “Biasanya jurnal itu secara umum terbit dua kali dalam satu tahun. Ada yang edisi Juni dan Desember. Januari dan Juli, April dan September. “Nah, kalau terbitnya Desember, maka dua bulan sebelumnya sudah submit, agar tidak terlalu antre lama dan tidak pula antre yang mepet,” urainya.

Kesembilan, mendapuk penulis kedua yang sudah memiliki rekam jejak publikasi yang banyak. Baik di Google Scholar, SINTA maupun Scopus. “Kalau saya membagi, strategi ini berlaku di empat jenis jurnal. Mulai dari jurnal nasional tidak terakreditasi, jurnal nasional terakreditasi, jurnal internasional tidak terakreditasi atau terindeks WOS atau Scopus, dan jurnal internasional yang terindeks WOS atau Scopus,” terangnya. (rls/ rid, luh, adb)

Comments