Giatkan Literasi Santri Sejak Dini

0
542

 

Santri PP MUS berfoto Bersama Tim Suara Nahdliyin usai kongkow bareng

TUBAN, Suaranahdliyin.com – Santri dianggap memiliki bank data yang lengkap dalam bidang keilmuan dan pelajaran hidup. Hal itu penting untuk dipublikasikan dalam bentuk tulisan, sehingga masyarakat umum bisa belajar bagaimana hidup yang seimbang.

Untuk mewujudkan hal itu, gerakan literasi santri perlu digiatkan sejak dini agar mereka bisa menyajikanya secara baik dan konsisten.

Demikian itu mengemuka dalam “Kongkow Bareng Suara Nahdliyin” dalam acara Workshop Jurnalistik yang diadakan oleh BEMS Ma’had Aly Fadhlul Jamil, PP MUS Sarang di Aula Café Pantura, Tuban, Sabtu (17/08/19).

Hadir dalam kesempatan itu Pimpinan Umum Suara Nahdliyin Moh. Qomarul Adib, Pimpinan Redaksi Suara Nahdliyin Rosidi, Stage Manager Suara Nahdliyin Sugiono dan puluhan santri dari PP. MUS Sarang, Rembang.

Moh. Qomarul Adib menyampaikan kewajiban santri selain belajar dan khidmah kepada kiai juga perlu menggiatkan literasi. Caranya bisa dengan mencatat kemudian mengolah hasil ngaji-nya kepada kiai atau ustaz di pondok.

“Bisa juga dengan menuliskan ulang keterangan kiai sewaktu ngaji dengan bahasanya sendiri. Bisa juga dengan menulis serba-serbi kehidupan santri,” ujarnya.

Menurutnya, banyak sekali cerita-cerita unik nan menarik untuk diteladani dari seorang santri dan kiai. Hal itu penting untuk dipublikasikan agar dunia bisa belajar betapa indahnya Islam Indonesia. Media yang ada harus dimanfaatkan untuk berbagi ilmu yang baik, sehingga tidak dipenuhi ujaran-ujaran yang bisa mengancam persatuan.

Pimpinan redaksi Suara Nahdliyin Rosidi menambahkan beberapa cerita mengenai keteladanan para ulama dalam dunia literasi. Ia juga menceritakan pengalamannya bertemu dengan para santri penulis.

Menurutnya, orang yang pernah nyantri memiliki kualitas tulisan yang baik. Nilai lebihnya terletak pada keseimbangan nilai yang ia sajikan dalam tulisan.

“Sebut saja misalnya, KH. Musthofa Bisri, KH. D. Zawawi Imron, A. Fuadi dan di barisan penulis perempuan ada Khilma Anis dan lain-lain. Di dalam tulisan-tulisan mereka terselip rasa dan perenungan yang dalam. Dan itu hanya dimiliki oleh santri,” sebut Eros, sapaan akrab Rosidi.

Senada dengan keduanya, Stage Manager Suara Nahdliyin Sugiono menyebut jika santri merupakan pusat data. Tidak hanya bidang agama saja, tetapi santri juga memiliki bekal berupa keteladanan dari ulama dan kiai untuk hidup mandiri dan berbakti pada negeri.

“Data-data yang lengkap itu hanya dimiliki oleh santri. Hanya saja terkadang tidak terdokumentasi secara rapi,” katanya.

Untuk itu, kata dia, sedini mungkin santri harus memiliki kesadaran mengenai pentingnya menuliskan ide dan gagasan. Dengan begitu, pemahaman agama baik di dunia nyata atau pun maya bisa diluruskan. Tidak saling fitnah dan su’udzon terhadap segala perbedaan pandangan.

“Keilmuan Islam sangat luas. Dan oleh santri hampir semuanya dipelajari. Cukup bisa jadi bahan untuk membuat tulisan yang penuh wawasan dan kearifan. Tinggal bagaimana kita memulainya dan istiqomah,” paparnya.

Ia juga berpesan kepada para santri supaya jangan mudah bosan. Menekuni dunia literasi memang berat, tetapi hal itu akan bisa diatasi manakala ada semangat. Ia kemudian mengajak para santri yang ada untuk berefleksi mengenai dakwah para kiai melalui literasi.

“Kalau bukan santri lalu siapa yang akan meneruskan perjuangan kiai di negeri ini?” tandasnya.(rid, il, luh/ ros, adb)

Comments