Tradisi Pengambilan Banyu Salamun di Desa Jepang

0
329

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Senin (14/11/2017), usai salat Maghrib, warga Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus berbondong-bondong menuju Masjid Wali Al-Ma’mur untuk  memgambil Banyu Salamun.

Pengambilan Banyu Salamun di masjid tersebut, merupakan tradisi turun temurun warga sejak zaman dulu. Banyu Salamun di masjid itu, diambil dari sumur peninggalan wali zaman dulu.

Serangkaian doa dilakukan terlebih dahulu sebelum pengambilan Banyu Salamun itu. Termasuk pada malam sebelumnya, dilakukan khataman al-Quran yang diikuti oleh ratusan warga desa.

Khataman al-Quran itu cukup menarik, karena seakan hendak menyatukan warga setempat. Ratusan warga dengan dengan satu juz al-Quran yang telah dibagi panitia, membaca secara bersama kitab suci itu. Nampak hadir pada kesempatan itu, antara lain Habib Hasan Bunumay, KH. Abdul Hamid, KH. Sulhan, Kiai Sutomo, H. Mastur, dan H. M. Ridwan.

Sementara itu, tepat pada malam Rabu Wekasan, warga Desa Jepang dan desa sekitarnya, harus sabar mengantre untuk mendapatkan Banyu Salaman, apalagi kondisi masjid dengan dalam perbaikan (renovasi).

Kendati begitu, proses pengambilan Banyu Salamun berjalan lancar, karena pihak pengurus masjid mendapatkan bantuan dari IPNU-IPPNU dan juga GP. Ansor. Bahkan ketua PR. GP. Ansor Jepang, Selasa pagi sudah mengingatkan jajarannya untuk membantu proses pembagian Banyu Salamun.

‘’Mohon Sahabat-sahabat Ansor supaya nanti bisa ikut membantu pembagian air (banyu) salamun di masjid, habis Maghrib tepat,’’ Sugiono, ketua PR. GP. Ansor Jepang memberikan instruksi melalui grup WhatsApp. (ros)

Comments