Santripreneur, Pemaknaan Gusjigang Zaman Milenial

0
315

Oleh Mohammad Fatchul Munif, S.Pd.I

Historia Vitae Magistra, demikian orang Yunani menganggap begitu pentingnya sejarah sebagai guru kehidupan yang bijaksana. Untuk itulah masyarakat pesantren Kudus perlu mengampanyekan kembali semangat ekonomi keumatan dalam konsepsi Gusjigang. Sebuah karakter lokal yang menjadi semangat kejuangan Sunan Kudus dalam upaya memberdayakan masyarakat melalui pilihan diksi pribadi yang bagus, pandai mengaji atau mampu memahami ilmu agama, dan mampu berwirausaha melalui dagang.

Santri yang ditempa kepribadiannya melalui relasi pergaulan lintas daerah, lintas budaya, lintas karakter di dunia pesantren, tentu akan mudah menerima keterbukaan gagasan. Hal ini menjadi penting karena sosok-sosok hebat sesungguhnya berproses dari budaya keterbukaan yang tumbuh subur semangat toleransi keberbedaan. Keterbukaan pergaulan ini jugalah yang membuka kesempatan para santri lebih luwes bergerak dalam bidang ekonomi, bidang yang sangat membutuhkan kemampuan bersosialisasi.

Santri sebagai kader pewaris Nabi perlu meniru langkah hidup Nabi itu sendiri. Perlu difahami bahwa Nabi Muhammad sejak usia 9 tahun, sudah diajak Abu Thalib selaku paman yang bertanggungjawab mengasuh, pergi bertransaksi ekonomi lintas negara. Ekspor komoditas Makkah sudah sampai pada wilayah Syam, yang tentunya membutuhkan kecerdasan berkomunikasi, bersosialisasi, sekaligus bertransaksi ekonomi dengan orang asing. Puncaknya, Nabi Muhammad mampu menjadi seorang pengusaha muda yang sukses di tengah pertarungan kapitalisme modal masyarakat Makkah pra-Kenabian.

Dengan kondisi semacam itu, diperlukan kembali penggalian informasi budaya masa lalu yang masih tertinggal di dalam pesantren untuk dimaknai dalam konteks masyarakat masa kini. Ini tidak hanya terkait dengan karakter atau mentalitas masyarakat yang tergerus, tetapi persoalan pelestarian budaya (heritage society) untuk menjaga kesinambungan peradaban masa lalu dengan masa depan masyarakat yang lebih baik. Dan peran ini semestinya dijalankan dengan memosisikan santri sebagai pelaku ekonomi karena memiliki tradisi penelaahan khasanah fiqih mu’amalah yang lebih intensif.

Berkembangnya ekonomi Islam serta ”musim semi” ekonomi kreatif di Indonesia, merupakan momentum bagi santri Indonesia untuk bergerak mengembangkan ekonomi. Ekonomi kreatif adalah konsep ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan sumber daya manusia sebagai faktor produksi utama. John Howkins dalam buku berjudul The Creative Economy: How People Make Money from Ideas menjelaskan bahwa ekonomi kreatif adalah kegiatan ekonomi berbasis ide, bukan suatu aktivitas yang berulang-ulang. Tentu ini sangat identik dengan kalangan santri, sebagaimana kreatifnya sebatang rokok yang dilukis dengan kopi untuk menghasilkan rokok beraroma kopi. Sarung batik sebagai identitas santri Kudus Kulon, tentu dapat dikembangkan soal pilihan gambar motif, varian acara penggunaan, maupun pilihan jenis bahan dan desain.

Santripreneur atau semangat berwirausaha di kalangan santri masih memiliki peluang yang sangat terbuka seiring berkembangnya ekonomi kreatif di Indonesia. Ekonomi kreatif menjadikan kreativitas sebagai aset yang dapat mengembangkan dunia grafis, fotografi, ilustrasi, seni, desain grafis, dan jasa komunikasi lain.

Kekuatan besar bagi santri Kudus sebagai kelanjutan warisan Sunan Kudus dengan kokohnya bangunan Menara Kudus yang menggabungkan budaya Islam, Hindu, dan Cina semestinya adalah bergerak pada ruang arsitektur. Pada arsitektur level makro, para santri dapat mengembangkan diri pada perencanaan kota agar terbangun keserasian tata ruang kota dan desain urbanisasi perkotaan yang tidak saling bertarung antara tempat ibadah dengan tempat perbelanjaan. Pada arsitektur level mikro, para santri dapat mengembangkan pada konstruksi bangunan, taman, rekayasa mekanika, dan rekayasa elektrikal. Potensi ini sudah lama ditinggalkan kaum santri, padahal Sunan Kalijaga telah mampu menghadirkan desain kota yang sangat detail antara pendopo pemerintahan, masjid agung, alun-alun, penjara, dan pasar yang sangat rapi.

Pengembangan semangat wirausaha pada kalangan santri pun dapat digerakkan pada pasar barang seni yang mengandalkan kreasi kerajinan. Desain ini sudah menjadi bidang asli masyarakat Kudus Kota baik Kulon maupun Wetan, yang sudah terpetakan pada desain fashion pada kawasan Gebog dan Kota, kerajinan besi pada kawasan Jekulo, kegiatan kreatif animasi dan sinematografi di wilayah Gebog yang bahkan menjadi sekolah animasi terbaik di Indonesia. Potensi yang luar biasa pada masyarakat Kudus ini perlu pemetaan yang lebih serius oleh kalangan pesantren agar menyiapkan kader-kader ekonomi kreatif sesuai dengan zaman milenial saat ini.

Berkenaan dengan tujuan tersebut, Pesantren harus berubah dari sekadar tempat pameran naskah-naskah kuno dari peninggalan ulama pendahulu yang dikenal dengan Kitab Kuning, menjadi medan kajian kontekstualisasi khasanah masa lalu untuk merespon masa kini. Kehadiran ekonomi kreatif di Kabupaten Kudus secara turun temurun dengan adanya Pasar Kliwon sebagai pusat budaya dan fashion merupakan bukti bahwa khasanah masa lalu pesantren Kudus justru memiliki relevansi dengan zaman milenial saat ini. Konsepsi Gusjigang adalah syarah atau penjabaran dari karakter muslim sejati pada masa salaf. Konsep ini semakin menjadi referensi utama bersamaan dengan upaya menghadirkan Kudus sebagai Kota Modern dan Religius.

Di sinilah menjadi agenda penting pemberdayaan pesantren yang dapat dilakukan oleh Nahdlatul Ulama (NU) karena keidentikannya dengan pesantren. Pesantren merupakan komponen penting dalam mendukung terwujudnya civil society melalui kekayaan khazanah intelektual akademik seperti yang dikenal dengan “kitab kuning”. NU jelas mewarisi tradisi akademik ulama terdahulu melalui kemandirian ekonomi agar santri tidak lagi tinggal diam merespon perubahan zaman. Telah disadari bahwa gagasan transformasi sosial kalangan pesantren adalah kemampuannya merespon zaman.

Selamat menyongsong 1 Abad NU,  Saatnya bergerak menuju kemandirian mengembangkan ekonomi kreatif.

 

Mohammad Fatchul Munif, S.Pd.I

Adalah Ketua Umum PC PMII Kudus 2007 dan Ketua PAC GP Ansor KotaWakil Ketua DPC PPP Kabupaten Kudus. Caleg DPRD Kudus dapil Kota-Jati

 

Comments