Pesantren Diminta Tidak Membatasi pada Pembelajaran Keilmuan Islam Klasik

0
206
KH. Sofiyan Hadi menyampaikan paparan di depan para santri.

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Pada pengujung September lalu, sebanyak 70 pesantren di Jawa Tengah dan Yogyakarya mengunjungi Pondok Pesantren Entrepreneur Al-Mawaddah, Kudus. Kunjungan merupakan rangkaian Program Diklat Teknis Substantif Kewirausahaan Guru Pondok Pesantren Angkatan I dan II yang diselenggarakan Balai Diklat Keagamaan Semarang.

Para santri dari berbagai pesantren itu disambut oleh pendiri Pondok Pesantren Al-Mawaddah, KH Sofiyan Hadi Lc. MA. dan Hj. Khadijah. Di depan para santri, KH Sofiyan Hadi pun memaparkan visi misi dan core values serta perjalanan 11 tahun Al-Mawaddah hingga berhasil mendapatkan penghargaan sebagai Pesantren Entrepreneur Inspiratif terbaik pada 2018.

”Al-Mawaddah menggabungkan aspek spiritual, leadership dan entrepreneurship. Ini merupakan pengembangan spirit GusJiGang (Bagus Ngaji Dangang—red) yang diwariskan oleh Kanjeng Sunan Kudus,” ungkapnya diamini Hj. Khadijah, istrinya.

Selain sesi dialog, pada kesempatan itu yang juga dihadiri Faruq Afandi SE (Kepala BLK Al Mawaddah), para santri diberi materi antara lain tentang manajemen pemberdayaan SDM, manajemen perolehan dan pemanfaatan modal, manajemen peluang pemasaran, manajemen peningkatan produksi dan manajemen peningkatan kualitas SDM.

Drs. H. Zaenuri M.Ag dari Balai Diklat Keagamaan Semarang, menyampaikan, keberadaan pesantren sebagai lembaga pendidikan, sejak dulu sampai sekarang mempunyai peranan yang sangat penting dalam memberdayakan masyarakat.

‘’Karenanya, pesantren tidak boleh membatasi perannya hanya di bidang pengajaran ilmu-ilmu keislaman klasik. Di Pesantren Al-Mawaddah, hari ini, kita belajar bagaimana mengelola usaha produktif agar pesantren bisa mandiri,’’ katanya. (rls/ ros, adb, rid)

Comments