In Memoriam Mr. Maswan
Perjumpaanku dengan Penulis Produktif Itu

0
590
H. Hisyam Zamroni / wakil ketua PCNU Kabupaten Jepara

“Kang Hisyam, aja kendor nulis”. Kata itu yang selalu dikatakan oleh Mr. Maswan kepadaku saat ketemu, guyon bareng dan sekadar saling sapa di WA.

Saya mengenalnya saat masih menjadi Kepala Sekolah di MTs dan MA. NU Safinatul Huda Karimunjawa dan ketika itu saya sedang kuliah Akta IV di UNISNU Jepara.

Perjumpaan awal saya dengan Mr. Maswan adalah melalui tulisan-tulisannya yang inspiratif, di mana jarang sekali saya jumpai dosen dosen muda gemar menulis di media massa seperti Suara Merdeka, Jawa Pos dan lainnya. Ini yang membuat saya “kesengsem” sama Mr. Maswan.

Tulisan-tulisannya di media massa tentang pendidikan progresif, memberikan inspirasi banyak orang bagaimana me-manage dan memajukan pendidikan di Indonesia.

Pada sesi tulisan tulisannya tentang pendidikan, Mr. Maswan mengolaborasikan antara pendidikan pesantren dan pendidikan sekuler, di mana dia memberikan tawaran tentang mutu pendidikan ditentukan oleh profesionalitas seorang guru.

Guru profesional, menurutnya, adalah guru yang cerdas (smart), berkharisma, dinamis, kreatif, inovatif dan mempunyai etos kerja yg tinggi sehingga guru profesional tidak “melulu” berbicara “hasil”, tetapi juga harus mementingkan “proses” pendidikan.

Kecerdasan dan produktivitas menulis Mr. Maswan ditandai dengan banyaknya karya yang tersebar di berbagai media massa dan 14 buku karyanya yang akan menjadikan namanya dikenang senantiasa.

Buah karya itu, selain sebagai produk intelektual, juga memberi motivasi kepada siapa pun, utamanya para generasi muda dan mahasiswanya, untuk meniru jejak langkahnya.

Dengan reputasi dan komitmennya di dunia pendidikan, maka tak berlebihan kiranya jika ia diberi amanah sebagai salah satu Komisioner Dewan Pendidikan Jawa Tengah dan didapuk menjadi ketua Assosiasi Dosen Nahdlatul Ulama Jawa Tengah.

Saya sangat kehilangan orang yang selama ini menjadi partner dalam menulis beberapa buku, termasuk buku pertama saya: Pendidikan Multikultural, di mana dia dengan tajam mengritisi dan memberi masukan agar buku saya “layak” dibaca secara enak renyah, enjoy dan tidak berat sebagaimana karya ilmiah murni.

Sungguh saya, dan kita semua kehilangan dengan kepergian Mr. Maswan yang perjumpaan dan pesapaan dengannya adalah perjumpaan dan sapa melalui karya yang jarang dimiliki banyak orang.

Ia juga sering menggojlok saya; Kang Hisyam, yen pidato iku wes akih sing iso, tapi yen nulis akih sing terseok-seok. Demikian ia selalu mengingatkan.

Selamat jalan sahabatku, Mr. Maswan. Kami sangat kehilanganmu. Saya yakin, akan ada penerus “jihad nulismu”. Kamu orang baik, dan semoga husnul khatimah. Amin. (H. Hisyam Zamroni, wakil ketua PCNU Kabupaten Jepara)

Comments