Surat dari Regol Ngabul
Lomban dan Kabumi, Tradisi Masyarakat Nusantara Hormati Laut dan Bumi

0
497
H. Hisyam Zamroni / wakil ketua PCNU Kabupaten Jepara

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Sepekan setelah Idul Fitri lalu, biasanya, masyarakat nelayan Nusantara mengadakan perayaan atau tradisi “lomban”. Dalam bahasa kerennya disebut sebagai Hari Maritim Nusantara.

Itu adalah tradisi khas Nusantara. Yakni ritual selametan berdoa dengan “nyembelih kebo”, nyadran cikal bakal wali maritim/ kelautan dan nanggap “wayang” agar laut yang setiap hari menjadi “wasilah” mencari penghidupan (rizki), tetap lestari dan melimpah tangkapan ikannya.

Ritual selanjutnya pada Apit atawa Zulkangidah adalah ritual Kabumi (Sedekah Bumi), yaitu Hari Bumi Nusantara khas Nusantara.

Kabumi dilaksanakan di seluruh desa/kelurahan di Nusantara dengan adat dan tradisi yang berbeda. Kagumi digelar sebagai ungkapan rasa syukur dan berdoa agar bumi tetap subur dan menjadi lahan pertanian, perkebunan dan peternakan yang subur makmur untuk keperluan kehidupan sehari hari.

Ritual kegiatannya pun sama tradisi lomba (Hari Maritim Nusantara khas Nusantara); selametan yang diisi dengan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Ada acara penyembelihan kerbau untuk Selametan. Juga nyadran ke leluhur cikal bakal desa/kelurahan. Ada juga yang dilengkapi dengan nanggap “wayang”.

Kedua tradisi di atas, merupakan fenomena “menjaga” (menghormati) bumi dan laut, atas dasar kearifan lokal yang mendahului acara-acara seremonial dunia tentang Hari Bumi dan Hari Maritim Internasional.

Ketidaktahuan kita tentang “budaya dan kearifan lokal”, akan menjadikan bangsa ini menjadi “inlander” yang hanya “ikut-ikutan trend global hari bumi dan maritim.

Padahal datuk-datuk (leluhur) kita telah mewariskan tradisi yang fenomenal, yaitu tradisi (budaya) lomban dan kabumi, dengan waktu yang telah ditentukan setiap tahun, bahkan lebih intrinsik serta penuh dengan penghayatan ritual, karena dibalut agama dan budaya yang apik.

Sekarang ini adalah Apit (Zulkangidah) di mana kita jumpai di desa/ keluarahan mengadakan kabumi (sedekah bumi), yang secara serentak rakyat selametan dan berdoa lengkap dengan sedekah ditandai dengan “nyembelih kebo”, nyadran cikal bakal wali pendiri desa dan nanggap “wayang”.

Namun inti dari semuanya, adalah sebagai ungkapan rasa syukur dan munajat kepada Gusti Allah. Dengan harapan bumi ini tetep lestari, subur, makmur lan gemah ripah loh jinawe untuk menghidupi kebutuhan keluarga dan masyarakat. (H. Hisyam Zamroni, wakil ketua PCNU Kabupaten Jepara)

Comments