Kesabaran dan Kekompakan, Kunci Raih Kesuksesan sekaligus Tonggak Kesejahteraan

0
279

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Salah satu hari atau peristiwa penting yang senantiasa disambut penuh suka cita oleh umat Islam di seluruh dunia, adalah Idul Adha. Ada dua peristiwa penting yang tidak bisa lepaskan dari perayaan Idul Adha, yakni ibadah haji dan kurban.

Demikian disampaikan Dr KH Ahmad Faiz Lc MA dalam khutbah salat Idul Adha di Masjid Agung Kudus, Jum’at (31/7/2020). “Namun pada situasi saat ini, kedua ibadah tersebut harus dilaksanakan di tengah pandemi Covid-19, yang sampai saat ini belum mereda. Tentunya ketentuan Allah Subhanahu Wata’ala ini tidak boleh serta merta menurunkan semangat spiritual kita sebagai umat Islam,” tuturnya.

Pengasuh Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Menawan (PTYQM) ini menyampaikan, bahwa sebagai umat Islam harus meyakini, selalu ada hikmah besar yang terkandung dari setiap ketetapan yang diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala.

“Sebagaimana diketahui, akibat pandemi Covid-19 yang mewabah di seluruh penjuru dunia, maka Jamaah Haji Indonesia tahun 2020 tidak bisa diberangkatkan ke Tanah Suci. Ini dilakukan pemerintah untuk menjaga keselamatan jiwa jamaah, agar tidak terpapar virus Corona. Pemerintah Arab Saudi pun tidak mengizinkan jamaah dari luar Arab Saudi untuk menjalankan rukun Islam kelima ini,” terangnya.

Ditambahkannya, hanya warga Arab Saudi dan warga Asing yang berada di Arab Saudi saja yang diperkenankan melaksanakan ibadah Haji. Itu pun dengan pembatasan jumlah dan peraturan yang sangat ketat. Bagi calon jamaah haji tahun 2020, keputusan ini tentu sangat berat untuk diterima. Setelah sekian lama menunggu antrean kuota haji dengan berbagai macam usaha untuk melunasi ongkos naik haji, namun giliran saatnya berangkat harus mengalami penundaan.

“Peristiwa monumental yang senantiasa dikenang dalam perayaan Idul Adha, adalah Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, sebuah kisah yang tak lekang oleh zaman, kisah kepasrahan total, kesabaran maksimal Khalilur Rahman Nabiyullah Ibrahim Alaihis Salam, tatkala diperintahkan untuk menyembelih putranya tersayang. Kisah ini pun diabadikan dalam al Quran Surat Ash-Shaaffaat : 102, agar menjadi teladan bagi umat manusia sepanjang masa.

“Atas dasar ketakwaan, ketaatan dan kecintaan Nabi Ibrahim kepada Allah yang melebihi segalanya, didukung oleh kesabaran total dan kepasrahan maksimal dari Ismail, putra kesayangannya, maka Nabi Ibrahim pun menunaikan perintah menyembelih putra kesayangannya, hingga akhirnya dengan kebijaksanaan Allah Subhanahu wa Ta’ala melihat ketulusan dan ketaatan Nabi Ibrahim, Ismail tak jadi tersembelih, tetapi diganti dengan seekor domba.

“Kisah ini memberikan ibrah kepada kita semua, bahwa untuk menggapai ridla Allah Subhanahu wa Ta’ala serta mencapai sebuah cita-cita mulia, perlu adanya kekompakan, sebagaimana tercontohkan dalam kisah Ibrahim dan Ismail ini,” ujar Mudir pada Ma’had Aly TBS Kudus itu.

Dalam konteks yang lebih luas, lanjut KH Ahmad Faiz, jika seorang anak tidak patuh lagi kepada orang tuanya, rakyat tidak mau lagi mendukung program-program pemerintah dalam memajukan bangsanya, masyarakat telah meremehkan serta menyampakkan petuah dan nasihat para kiai dan ulamanya, maka kehancuran akan datang. “Semoga Allah Azza wa Jalla senantiasa memberikan taufiq dan hidayahnya kepada kita semua,” katanya. (rid, mail, gie, sep/ adb, luh, ros)

Comments