Dikukuhkan sebagai Guru Besar
Imam Yahya: Spiritualitas Agama Tak Bisa Tergantikan dengan Digitalisasi Agama  

0
744
Prof Imam Yahya menyampailkan orasi ilmiah

SEMARANG, Suaranahdliyin.com – Prof Dr H Imam Yahya resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Fiqh pada Program Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Senin (13/3/2023) kemarin.

Di hadapan para tamu undangan dan sivitas akademika UIN Walisongo, antara lain Prof Dr H Muhibbin MAg (Ketua Senat), Prof Dr H Imam Taufiq MAg (Rektor UIN Walisongo), para Wakil Rektor, Dekan, Direktur Pascasarjana, Ketua Lembaga dan Ketua Jurusan, dia mengemukakan, bahwa digitalisasi agama yang muncul di tengah masyarakat kontemporer sekarang ini, tidak hanya sebagai fenomena transformasi sosial budaya, juga sebagai tantangan dan transformasi bidang keagamaan.

“Transformasi sosial budaya memberikan dampak positif dan negatif dalam kehidupan sosial masyarakat. Komunikasi antarmasyarakat yang semula bersifat komunal, kini berubah menjadi pola komunikasi online, di mana antarindividu bisa menjalin komuniksi intensif tanpa melakukan pertemuan langsung,” jelasnya.

Sebaliknya, lanjutnya, dengan digitalisasi, banyak muncul konflik sosial yang disebabkan oleh beredarnya berita hoaks yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Begitu juga dengan transformasi di bidang keagamaan, digitalisasi agama menjadikan aktivitas keagamaan lebih efisien dan efektif.

“Berbagai kajian keagamaan dan ritual keagamaan sekarang ini, marak berlangsung secara online di tengah masyarakat muslim. Kajian agama virtual, doa bersama virtual, tahlil virtual, bahkan salat Jumat virtual menjadi alternatif dalam melakukan berbagai aktivitas keagamaan selama masa pandemi lalu,” paparnya.

Prof Imam Yahya pun melihat, bahwa studi tentang digitalisasi agama pada masa sekarang ini cenderung melihat pada dua aspek. Pertama, sebagai sebuah transformasi ilmu pengetahuan, digitalisasi menjadi sebuah keharusan dalam kehiduan umat manusia termasuk dalam kegiatan keagamaan. Dengan bantuan digital platform, kegiatan dan ritual keagamaan lebih efisien dan efektif.

Kedua, digitalisasi agama meskipun bisa memberikan kemudahan dalam berbagai kegiatan keagamaan, tetapi tidak menyentuh kepada aspek spiritualitas yang sesungguhnya. Aspek spiritualitas agama sesungguhnya berbasis pada keyakinan (tauhid). Oleh karena itu, spiritualitas agama tidak bisa tergantikan dengan digitalisasi agama,” tegasnya.

Pengukuhan gelar profesor oleh Rektor UIN Walisongo

Lebih lanjut Prof Imam Yahya menyampaikan, bahwa sebagai sebuah sistem informasi dan teknologi, digitalisasi agama dapat memberikan kemudahan dan efisiensi dalam berbagai kegiatan keagamaan seperti memeroleh informasi tentang ajaran agama, berpartisipasi dalam ibadah online, dan berkomunikasi dengan sesama umat beragama melalui media sosial.

“Digitalisasi agama dapat memberikan kemudahan dalam berbagai kegiatan keagamaan, tetapi tidak dapat sepenuhnya menggantikan atau menyentuh aspek spiritualitas yang sesungguhnya. Maka penting bagi umat beragama untuk memahami, bahwa teknologi hanyalah alat dan bahwa pengalaman keagamaan yang lebih dalam dan personal, dapat dicapai melalui praktik keagamaan yang sesungguhnya,” tuturnya. (rls/ ros, rid, adb)

 

Comments