Gus Nasih Ingatkan Pentingnya Memahami Dua Aspek Islam

0
321
  • Puncak Pengajian 17-an Menara Kudus Hadirkan Gus Muwafiq
Pengajian 17-an Menara Kudus selalu dipenuhi oleh jamaah dari berbagai pelosok kampung. Bahkan tak sedikit jamaah yang datang dari luar Kudus.

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Dewan pakar Aswaja Center Kabupaten Kudus, KH. Sa’adudin An-Nasih, menjelaskan dua aspek agama Islam yang harus dipahami oleh pemeluknya dalam acara Darusan Umum Pengajian 17-an Masjid al-Aqsha Menara Kudus, Kamis (30/05/19) malam ini.

“Aspek yang pertama adalah aspek simbolik. Yaitu aspek yang menunjukkan simbol-simbol kebesaran agama,” ujar KH. Sa’adudin An-Nasih yang akrab disapa dengan Gus Nasih itu.

Dia pun mengutip sabda Nabi Muhammad yang mengatakan ada lima perkara yang Islam itu terbangun di atasnya, yaitu syahadat, sholat, puasa, zakat, dan haji. ‘’Lima ini merupakan simbol Islam yang harus dihidupkan untuk menegakkan kehidupan agama. Simbol lain berbentuk fisik, berupa Kakbah,  Shafa dan Marwa. Agar Islam hidup, simbol-simbol itu harus dirawat,” ungkapnya.

Namun menurutnya tak cukup itu saja. KH. Sa’adudin mengingatkan, untuk bisa sempurna Islam tidak boleh sekadar dipahami sebagai simbol. Melainkan harus juga berpijak pada aspek yang kedua. yaitu aspek esensial.

“Aspek esensial ini mengingatkan manusia untuk bisa meningkatkan relasi sosial dengan sesama. Bahwa Islam juga memiliki makna dan tidak sekadar simbol,” lanjutnya menambahkan.

Sayang, paparnya, kecenderungan Islam akhir-akhir ini dipahami sebatas simbol, sehingga banyak yang tidak bisa menemukan esensi di balik sholat, haji maupun puasanya. Sehingga sering dijumpai, seseorang yang kelihatannya rajin sholat, rajin ibadah tetapi tidak rukun dengan tetangganya.

‘’Maka aspek esensi ini penting untuk dipahami. Nabi Muhammad bersabda, agama adalah nasihat. Dan di antara tiang dari agama adalah nasihat, untuk menjalin hubungan Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu melebar kepada sosial, ke sesama makhluk,” jelasnya.

Nasihat, tuturnya, adalah kalimat yang dimaksudkan untuk menciptakan kebaikan bagi orang lain. ‘’Nasihat bisa muncul dari seseorang, bisa juga dari sebuah peristiwa. Dari situlah aspek esensi dipahami,’’ ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang diterima Suaranahdliyin.com, Pengajian 17-an Ramadan 1440 H akan ditutup pada Jumat (31/05/19) malam. Rencananya, tausiyah pada puncak 17-an besok malam, menghadirkan dai kondang asal Yogyakarta, KH. Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq). (rid, gie/ ros, adb)

Comments