Cucu Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani: Tidak Ada Pembedaan Ilmu

0
358
Maulana Sayyid Ahmad Amin Al Jilani Al Hasani di tengah para pengurus dan pengelola PTYQ Muria

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Maulana Sayyid Ahmad Amin Al Jilani Al Hasani asal Lebanon, yang merupakan cucu ke – 28 Syaikh Abdul Qodir Al Jailani, mengunjungi Pondok Tahfidh Putri Yanbu’ul Qur’an (PTPYQ) 2 Muria, Senin (2/12/2019).

Kehadiran Maulana Sayyid Ahmad Amin Al Jilani Al Hasani disambut hangat pengelola dan dewan pendidik PTPYQ  Muria, juga oleh alunan rebana dan sholawat dari para santriyah di pondok pesantren tersebut.

Dalam kesempatan itu Maulana Sayyid Ahmad Amin mengaku bangga dan bahagia bisa berkunjung ke Indonesia, karena di Negara ini sangat memuliakan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Bahkan Negara Arab pun tak seperti Indonesia dalam memuliakan Rasulullah,’’ tuturnya.

Dikatakannya, para penuntut ilmu adalah mercusuar bagi bangsa Indonesia, sehingga para santri – santriyah diminta bersungguh – sungguh untuk itu. “Keutamaan menuntut ilmu di antaranya akan diangkat oleh derajatnya, sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an. Menuntut ilmu hukumnya wajib bagi laki-laki dan perempuan. Tidak dibedakan,” tegasnya.

Lebih lanjut ditambahkan, bahwa tidak ada pembedaan ilmu: ilmu agama dan ilmu umum. Semuanya sama-sama penting. Ilmu umum untuk pertahanan negara, untuk keseimbangan hidup di dunia. Bagi yang menuntut ilmu umum, maka gunakanlah untuk membangun bangsa.

“Bagi yang menuntut ilmu, akan singkat derajatnya, dunia maupun akhirat. Beruntunglah orang-orang yang (bersunggunh-sungguh) menuntut ilmu,” kata Maulana Sayyid Ahmad Amin yang pada kesempatan itu antara lain disambut oleh KH Nur Khamim Lc. Pg.D, H Nur Hudlri, dan Muhdi.

Maulana Sayyid Ahmad Amin Al Jilani Al Hasani saat menyapa santriyah PTYQ Muria

Momentum bertemu dengan Maulana Sayyid Ahmad Amin pun dimanfaatkan baik-baik oleh para santriyah, dengan menyampaikan pertanyaan-pertanyaan langsung kepada zuriyah Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani itu. Di antara mereka yang memanfaatkan momentum untuk bertanya, adalah Marisa Farha Ahimsa (santriyah asal Kabupaten Pati) dan Najma Ilyatus Suhla (santriyah asal Kabupaten Jepara). (fida/ adb, ros, rid)

Comments