Bulan Muharram Tidak Mantu, Begini Penjelasan Gus Muwafiq

0
284
KH. Ahmad Muwafiq Yogyakarta ketika menyampaikan tausyiyah di Haul Agung Sunan Bonang

TUBAN, Suaranahdliyin.com – Bulan Muharram termasuk dalam bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Banyak keistimewaan diturunkan pada bulan ini mulai dari mu’jizat nabi-nabi, wahyu, bahkan karomah para wali banyak yang turun pada bulan ini.

Seperti halnya, diselamatkannya Nabi Musa dari kejaran Fir’aun, selamatnya kapal Nabi Nuh setelah badai panjang, keluarnya Nabi Yunus dari perut ikan, dan sebagainya. Kendati begitu, bulan Muharram juga dikenang sebagai bulan sakral bagi sebagian masyarakat, utamanya Jawa.

Saking sakralnya, masyarakat jawa pantang untuk mengadakan hajatan (mantu) pada bulan Muharram atau disebut juga bulan Syuro ini. Menurut Syuriyah PWNU Jogjakarta KH. Ahmad Muwafiq, hal tersebut bukan tanpa alasan.

Ia menjelaskan bahwa bulan Syuro merupakan bulan duka bagi umat Islam. Hal tersebut didasarkan pada sejarah terbunuhnya Sayyidina Husain di Karbala pada 10 Muharram 61 H. Selain itu, banyak orang alim dan para wali yang juga meninggal pada bulan Muharram.

“Makanya tradisi di Jawa itu, kalau Syuro tidak ada mantu sebab ini bulan duka,” katanya dalam Haul ke-510 Sunan Bonang, Kamis (05/09/19).

Gus Muwafiq menambahkan di bulan Muharram orang Islam Indonesia banyak sekali yang mengadakan haul. Demikian itu supaya masyarakat tidak lupa sejarah dan asal usulnya. Jika masyarakat memahami sejarahnya dengan baik, maka akan tumbuh sebuah kekuatan besar yang tidak bisa ditandingi.

“Haul-haul ini diadakan supaya masyarakat tidak kepaten obor. Supaya manusia tidak lupa pada sejarah. Begitu manusia kehilangan masa lalu ia tidak akan tahu asal usulnya,” ujarnya.

Kekuatan utama, kata dia, yaitu akan ada rasa saling mengasihi satu sama lain dalam bingkai persatuan dan kesatuan yang utuh. Makanya zaman dulu Indonesia dengan ragam suku dan bangsa bisa disatukan menjadi satu Negara.

“Sebab dulu kita ini sebagai sebuah bangsa sudah lengkap secara peradaban. Lalu ditambah dengan pemahaman yang dalam mengenai agama sehingga muncul lah akhlak. Makanya di Indonesia puluhan bangsa bisa dipikul satu Negara,” paparnya. (rid/adb)

Comments