Belajar dari Secuil Peristiwa

0
381
Penulis bersama cendekiawan Muslim yang juga sahabat KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH. Husein Muhammad.

Oleh: Muhammad Farid

Ada banyak hal yang terkadang tidak kita sadari itu berharga. Mulai dari makan, tidur, jalan-jalan hingga ketika merasa dalam tekanan. Tanpa menafikan campur tangan Tuhan, tak bisa dimungkiri bahwa dibalik itu semua terdapat sebuah pelajaran.

Berbagai aktivitas, tindakan, perilaku maupun ucapan dalam keseharian sebenarnya merupakan buah dari apa yang ada dalam pikiran. Meskipun sedetik. Orang mungkin bisa berkata jika sebuah capaian yang ia terima tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Tetapi ia mungkin lupa jika sebuah bayangan tidak mungkin ada tanpa sebuah hal yang nyata.

Ya memang begitu lah kita, manusia. Yang diingat hanya sebatas apa yang diinginkan, bukan yang terbaik untuk dilakukan dalam tempo yang telah ditakdirkan.

Ada sebuah kisah yang masyhur di kalangan sufi perihal keinginan yang dipaksakan. Suatu ketika seorang kuli angkut merasa hidupnya tidak berguna.

“Aku bekerja siang dan malam, upahku hanya cukup untuk membeli roti, sedangkan ibadahku terbengkalai. Ya Tuhan, andai saja engkau mencukupiku dengan sebuah roti setiap hari tanpa harus bekerja, pastilah aku akan lebih banyak waktu untuk beribadah kepadamu,” kata kuli tersebut.

Doa itu setiap hari ia ucapkan. Seakan yang ia sangka benar itu memang baik baginya. Padahal belum tentu begitu juga menurut-Nya.

Akhirnya, suatu saat Ia dituduh mencuri oleh seseorang dan masuk ke dalam penjara. Ia pun berkata jika peristiwa yang menimpanya itu tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Ia tidak menyangka bahwa orang sejujur dia difitnah oleh orang sehingga masuk penjara.

Hanya saja dia lupa, bahwa sebenarnya itu adalah jawaban Tuhan atas doa dia sebelumnya. Yaitu keinginannya untuk bisa mendapatkan roti tanpa bekerja. Bahkan ia dapat balasan ganda karena setiap hari petugas penjara selalu mengantarkan roti pada pagi dan sore menjelang waktu maghrib tiba.

Entah itu sebuah kesedihan atau kebahagiaan tapi itu lah faktanya. Bahwa tidak mungkin ada bayangan tanpa ada suatu hal yang nyata ada.

Itu sebuah hukum alam. Dan, kemungkinan besar dialami oleh seluruh makhluk ciptaan-Nya. Begitu juga dengan saya, kamu, dia atau mereka. Sedih atau bahagia, susah atau bangga,  terharu ataukah kecewa bergantung pada seberapa besar kita menerima dan berlapang dada.

Yang terpenting sebagai nasihat kita bersama yaitu cobalah untuk belajar dari secuil peristiwa yang ada. Jadikan sebagai perantara untuk berbaik sangka atas kehendak-Nya. Dalam bidang apa saja, termasuk pula hal-hal yang kelihatan sebagai sebuah kesalahan atau dosa.

Ada satu kisah lagi dari Syaikh Abu Hasan Asy-Syadzili. Cerita ini mulai populer di media sosial, bahkan mungkin viral, setelah diceritakan oleh KH. Ahmad Baha’uddin Nur Salim (Gus Baha’) dalam sebuah kesempatan ngajinya.

Suatu ketika Syaikh Abu Hasan Asy-Syadzili tiba di Mekkah kemudian beliau berdoa. Kira-kira doanya begini: “Ya Allah, aku tidak meminta sesuatu yang lebih. Hanya saja aku minta supaya Engkau menyelamatkanku dari berbuat dosa,” kata Syaikh Abu Hasan.

Lalu doa itu dijawab oleh Allah SWT : Apakah kamu ingin menghilangkan sifat Ghafurku sehingga kamu meminta supaya tidak melakukan dosa? Kalau tidak ada dosa tentu aku tidak menamai diri-Ku Al-Ghafur.

Dari kisah itu memuat pelajaran bahwa sebagai seorang hamba, manusia diminta agar hidup dengan santai dan banyak husnudzan dengan kehendak Allah. Termasuk pula yang kelihatannya buruk di mata kita. Seperti halnya meruncingnya hubungan antar sesama muslim atau saudara sebangsa se-tanah air. Asalkan masih sama-sama sadar untuk berbuat kebaikan dan yakin dengan ketetapan-Nya, tentu akan baik juga akhirnya.

Mengenai hal tersebut, Gus Baha’ juga memiliki cerita unik yang diambil dari kisah Sultan Muhammad Ad-Dakhil. Sang penakluk Andalusia yang berasal dari Bani Umayyah.

Kisah ini terjadi pada masa awal Bani Abbasiyah berkuasa. Waktu itu, kerajaan meminta seluruh keturunan Bani Umayyah dihabisi, termasuk Muhammad Ad-Dakhil. Mendengar kabar tersebut, akhirnya sang putra mahkota kemudian lari ke Eropa dan tinggal di Andalusia (Spanyol).

Dan ternyata memang begitu lah indahnya takdir Allah SWT. Pelarian Muhammad Ad-Dakhil karena dimusuhi oleh Bani Abbasiyah (sesama muslim) ternyata justru menjadi sebab kejayaan Islam di Eropa, khususnya di Andalusia.

Cuilan-cuilan (boleh dibaca cuplikan) peristiwa diatas mengandung nasihat bagi kita semua agar tetap berada dalam garis yang telah ditetapkan-Nya. Seperti kata guru kami, urip iku ono wayahe (hidup itu ada masanya). Bila dijabarkan secara lebih luas, semua peristiwa yang berkaitan dengan kehidupan dunia sudah ditentukan jatuh tempo kejadiannya.

Maka, tidak perlu ada ketegangan yang berlebihan sehingga memunculkan tambahnya persoalan. Yang tadinya niat menyatukan justru meruncingkan perbedaan, yang inginnya menebar kedamaian malah menjadi sebab permusuhan.

Ulama kita sudah memberi teladan, bagaimana mereka rela mengalah demi sebuah tujuan dalam bingkai kebersamaan, tata tentrem kerta raharja sebagai pedoman. Salam kebajikan.

Muhammad Farid,

Penulis adalah jurnalis Suara Nahdliyin. Alumnus MA. NU. Miftahul Falah Cendono ini menyelesaikan studi Program S-1 di IAIN Kudus.

Comments