Aris Junaidi, Tentang Gus Dur – Nelson Mandela

0
196
Ilutrasi: repro NU Online

Almarhum Aris Junaidi, adalah salah satu sosok yang dikenal dekat dengan almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Suatu ketika, di “markasnya” di Saung Bambu Wulung, ia sempat membuat “diskusi” yang “mempertemukan” antara Gus Dur dan Nelson Mandella dalam “satu panggung”.

“Jujur, saya sendiri tidak tahu persis, apakah semasa hidupnya, Gus Dur pernah bertemu dengan Nelson Mandela atau belum. Tetapi berdasarkan catatan J. Osdar pada April 2000, Gus Dur pernah melakukan lawatan ke Afrika Selatan untuk menimba ilmu dan pengalaman melakukan rekonsiliasi nasional. Hanya saja, waktu itu, Gus Dur ‘tidak sempat’ bertemu Mandela, namun berkesempatan berbicara mengenai rekonsiliasi nasional dengan Presiden Thabo Mbeki,” ujar Aris Junaidi.

Menurut Aris Junaidi, Gus Dur dan Nelson Mandela adalah dua tokoh yang memiliki kesamaan visi dalam hidup, yakni dalam hal memperjuangkan hak-hak minoritas dan anti terhadap diskriminasi.

Itulah yang menurut Aris Junaidi menjadi hal yang penting untuk dipahami oleh semua orang yang hidup di dunia ini, agar gagasan-gagasan yang menghargai kesamaan hak dan tidak melakukan diskriminasi terhadap satu atau kelompok lain, harus ditanamkan.

Gagasan besar dua tokoh yang sangat dihormati dunia karena pemikiran dan kiprahnya terhadap nilai-nilai kemanusiaan ini, adalah hal terpenting yang tidak sekadar harus dihargai, namun harus ditanamkan terhadap semua insan yang ada di bumi.

Apa yang dilakukan Gus Dur dan Nelson Mandela terhadap kemanusiaan -meminjam bahasanya Mohamad Sobary (2013)- masuk dalam ciri sebagai seorang cendekiawan dalam arti yang sesungguhnya. Sebab, kecendekiawan itu hampir tidak ada hubungannya dengan gelar akademik pada tingkatan mana pun.

Kecendekiawanan, jelas Kang Sobary –sapaan akrab mantan Direktur LKBN Antara- ini terletak pada bentuk-bentuk komitmen, sifat, pemikiran, dan pergolakan batin dalam diri orang bersangkutan, dalam usahanya memberikan jawaban atas persoalan-persoalan rumit yang berhubungan dengan alam semesta, Tuhan, metafisika, filsafat, dan manusia.

Pergolakan batin itu mendalam dan menimbulkan kegelisahan terus-menerus, karena setiap kali ditemukan suatu jawaban, maka jawaban itu segera berubah lagi menjadi suatu pertanyaan baru, yang harus dijawab lagi. Dari setiap pertanyaan bukannya lahir suatu jawaban, melainkan lahir pertanyaan baru dan cendekiawan hidup di dalam dialektika pemikiran seperti ini. Terus menerus. Demikian halnya dengan Gus Dur dan Nelson Mandela.

Maka sosok Gus Dur dan Nelson Mandela adalah teladan yang sangat penting, tidak sekadar untuk dikenang, melainkan untuk mematri dan meneguhkan komitmen dalam diri, meneruskan nilai-nilai dan sikap hidup yang telah mereka wariskan. (redaksi)

 

Comments