Akademisi STAIN Kudus dan UMK Kenalkan PRA di Forum Internasional

0
294
Nur Said menerima piagam pernghargaan

BANGKOK, Suaranahdliyin.com – Nur Said dan Farida Ulyani (STAIN Kudus) bersama Mutohhar (Universitas Muria Kudus/ UMK), berkolaborasi mengenalkan konsep Pendidikan Ramah Anak (PRA).

Kolaborasi interdisipliner antara peneliti budaya, konseling pendidikan dan ahli bahasa itu, membuahkan karya ilmiah yang mencuri perhatian dunia, dengan paper berjudul “Child Firendly Family Educationa in Indonesian Javanese Traditional Houses Construction”.

Oleh Nur Said, paper tersebut dipaparkan dalam ‘’11th Bangkok International Conference on Arts, Humanities, Social Sciences and Corporate Social Responsibilities (AHSCSR-17),’’ belum lama ini.

AHSCSR-17 merupakan forum temu peneliti sosial budaya dari berbagai negara, yang dihadiri antara lain dari Indonesia, Amerika, Iran, India, Korea, Jepang, Thailand, dan Malaysia,  untuk mengekspos hasil temuan riset terbarunya di forum lintas negara itu.

Kendati paper tersebut mengetengahkan tema lokal, yakni terkait rumah adat Jawa, namun sistem nilai terkait pendidikan ramah anak dalam keluarga, yang ditemukan dalam konstruksi rumah adat Kudus, masih dirindukan dunia, karena ternyata hidup di dunia modern, masih ditemukan sejumlah tindak kekerasan terhadap anak dalam keluarga maupun sekolah.

Paparan tentang pendidikan ramah anak yang digali dari khazanah Rumah Adat Kudus.

‘’Setidaknya ada empat relasi nilai moral dalam rumah adat Kudus, yang bisa disemai dalam pendidikan keluarga ramah anak, yakni relasi dengan Tuhan melalui penyadaran kesadaran tauhid dan nilai-nilai Islam dalam lima trap undakan, serta dengan sesama manusia melalui penguatan empati dalam gebyok,’’ terangnya.

Selain itu, juga dengan diri sendiri melalui peduli kesehatan melalui pawon, serta relasinya dengan lingkungan, yang bisa dilihat dari pakiwan dengan warna-warni tumbuhan.

‘’Yang menarik lagi, perempuan juga mendapat perhatian khusus dalam tata relasi spasial rumah.  Semua itu bisa ditemukan dalam sistem simbolik rumah adat Kudus yang penuh pesona,’’ tegas Nur Said yang juga ketua alumni Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus itu. (ied/ ros)

Comments