Tak Sekadar untuk Ibadah Ritual, Masjid juga Sarana Menransmisikan Nasionalisme

0
277
Pembicara diskusi Masjid dan Transmisi Nasionalisme, merawat kemajemukan menuju kemandirian ummat yg diselenggarakan FK PT, Pemerintah Kecamatan Mijen dan PCNU Kota Semarang, kemarin

SEMARANG, Suaranahdliyin.com – Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jateng bersama Pemerintah Kecamatan Mijen, Kota Semarang dan PCNU Kota Semarang menyelenggarakan webinar mendiskusikan “Masjid dan Transmisi Nasionalisme; Merawat Kemajemukan Menuju Kemandirian Umat”.

Acara itu digelar pada Selasa (28/7/2020) pukul 13.00 – 16.00 WIB, yang diikuti sebanyak 47 orang peserta perwakilan dari RW masing-masing kelurahan dan tokoh masyarakat di Kecamatan Mijen.

KH. Anasom, salah satu narasumber, menyampaikan, bahwa dalam kajian sejarah, masjid pada era awal Islam hingga era sebelum kemerdekaan di Indonesia selalu menjadi pusat peradaban.

“Masjid menjadi pusat peradaban umat Islam, tidak sekadar tempat ritual ibadah. Bahkan kalau diperhatikan, lokasi masjid-masjid bersejarah di tingkat kabupaten/ kota, provinsi dan nasional, desainnya terintegrasi dengan lokasi alun-alun atau tempat berkumpulnya banyak orang. Ini menunjukkan, masjid menjadi sarana transmisi nilai-nilai agama, wawasan kebangsaan dan nasionalisme kepada umat,” tuturnya.

Inilah yang menggugah Camat Mijen, Agus Junaidi, supaya masyarakat tidak hanya memfungsikan masjid sebagai tempat ibadah semata, juga untuk ibadah sosial, khsusnya berkenaan dengan kebutuhan masyarakat Mijen.

“Masjid tidak hanya tempat ritual peribadatan, tetapi juga sebagai media transmisi nilai-nilai keislaman. Harapan kami, semua masjid, khususnya di Kecamatan Mijen, bisa bersinergi untuk sengkuyung membantu kebutuhan masyarakat, sehingga masjid tidak berjarak dengan masyarakat,” tuturnya.

Ketua FKPT Jateng, Prof. Dr. Syamsul Maarif, berharap masyarakat Jateng dapat menjaga keharmonisan di tengah kemajemukan, karena perbedaan sesungguhnya adalah anugerah Tuhan.

“FKPT sebagai kepanjangan tangan dari BNPT di daerah, mengajak masyarakat supaya ikut mendamaikan saudaranya yang tengah konflik. Merawat kebhinnekaan adalah tugas berat yang harus dikerjakan bersama-sama. Perbedaan itu hal wajar, yang harus diterima sebagai kehendak Tuhan,” ungkapnya.

Dra. Atiek Surniati dari Kesbangpol Jateng, mengutarakan, bahwa untuk kemandirian bangsa perlu kebersamaan dalam cita-cita. “Setiap warga negara Indonesia harus memiliki rasa kebangsaan, paham kebangsaan, dan semangat kebangsaan. Semangat kebangsaan itu berupa menyatunya rasa kebangsaan dan paham kebangsaan, yang akhirnya menimbulkan tekad membela dan rela berkorban bagi kepentingan bangsa,” katanya. (rls/ ibd, ros, adb, rid)

Comments