“Sanad Keilmuan” Tukang Potong Rambut

0
534

Ternyata, tidak hanya orang-orang yang ‘alim dalam bidang ilmu keagamaan saja yang butuh “sanad keilmuan”, tetapi di banyak bidang lain, termasuk di dalamnya yaitu tukang potong rambut.

Sebutlah namanya Kang Jumali. Adalah salah satu tukang potong rambut, yang setiap hari selalu ramai oleh para pelanggannya. Tidak hanya dari kampungnya saja para pelanggannya, tetapi sampai wilayah luar kecamatan dari kediamannya.

Dan menariknya, para pelanggannya pun bukan hanya orang dari kalangan masyarakat umum (biasa), tetapi bahkan para pegawai negeri, bahkan tak sedikit kiai yang menjadi pelanggannya, yang menggunakan jasanya setiap kali potong rambut.

Suatu ketika, Kang Jumali dipanggil oleh salah satu kiai langganannya, untuk potong rambut. Di ndalem sang kiai, ternyata yang akan potong rambut bukan hanya sang kiai, juga beberapa puteranya.

Biasanya, santri-santri yang mau potong rambut saat kiai pas mengundang tukang potong rambut langganannya, ikut ketiban berkah karena dibayari sang kiai jika mau potong rambut sekalian, setelah sang kiai.

Usai memotong rambut sang kiai, beberapa putera dan juga santri, maka Kang Jumali pun hendak berpamitan. Salah satu putera kiai saat Kang Jumali mau pamitan bilang: mengko sek, Kang. Nunggu Abah.

Setelah menunggu beberapa lama, sang kiai pun keluar untuk menyerahkan beberapa lembar uang Rp 50.000-an kepada Kang Jumali. Sambil menyerahkan uang itu, sang kiai pun sedikit bergurau.

“Mbiyen wektu isih cilik, aku yen potong rambut karo simbahmu, Jum. Sak wuse simbahmu seda, aku potong rampung karo pak lik-mu. Lan sak wuse pak lik-mu seda, aku saiki yen potong rambut karo awakmu,” tuturnya sedikit berkisah.

Lebih lanjut sang kiai pun menambahi: “Pancen sing jengene sanad kuwi ora mung yen ngaji, thok. Potong rambut ae, ono sanad-e. he he ….,” canda sang kiai. (ros/ rid, adb)

Comments