Ramadan dan Puncak Kerinduan

0
753

Oleh: Irsyad Roqiyul Azmi

Tak terasa, saat ini kita sudah sampai pada menjelang akhir pekan kedua Ramadan. Ramadan, bulan dengan berbagai keistimewaan yang dimiliki dan selalu dinanti oleh kaum muslimin. Sampai-sampai ulama’ selalu menantikan, seakan tidak rela jika sisa kehidupan tidak berjumpa dengan bulan suci ini, melalui untaian doa: “Ya Allah pertemukanlah aku dengan Ramadan, dan pertemukan Ramadan dengan aku, dan jadikan amal ibadahku pada bulan mulia itu diterima di sisi-Mu”.

Kerinduan itu sangat terasa, yang dimanifestasikan dengan berbagai ritual penyambutan yang dilakukan jauh-jauh hari. Lantaran hakikatnya, rangkaian ibadah yang dilakukan di bulan-bulan sebelumnya, Rajab dan Sya’ban, merupakan persiapan menyambut datangnya Ramadan yang mulia itu. Terbukti dengan doa yang selalu dilantunkan pada bulan-bulan tersebut, yakni: “Ya Allah berkahi bulan Rajab dan Sya’ban, dan sempurnakan kami dengan bertemu Ramadan”.

Ramadan sendiri, merupakan momentum untuk mencurahkan harapan melalui rangkaian doa, sebab berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Al Bazzar berbunyi: “Sesungguhnya setiap muslim pada tiap siang dan malam hari (pada Ramadan) memiliki doa yang mustajab”. Nampaknya harapan kita bersama telah terjawab, yakni kerinduan kebersamaan dengan bulan mula ini.

Maka tidak tepat jika ada yang memahami Ramadan sebagai bulan untuk malas-malasan, hanya lantaran karena menahan lapar dan dahaga mulai fajar sampai magrib tiba. Perjuanganlah yang seharusnya menemani dalam menjalankan puasa, seperti Rasulullah dan para Sahabat Nabi dalam perang Badar. Perang yang terpaksa dihadapi tepat pada 17 Ramadan; perang yang mengharuskan para syuhada’ berjatuhan, dan perang yang membuktikan bahwa kemenangan hanya bisa diraih melalui pertolongan Allah yang Maha Kuasa.

“Ya Allah, aku menagih janji dan jaminan-Mu, jika Engkau kalahkan kaum muslimin ini, maka tidak akan ada yang menyembah-Mu lagi”. Demikian doa Rasulullah Muhammad kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pada Perang Badar, jumlah pasukan kaum muslimin hanya sebanyak 313 personel, sementara pihak musuh sebanyak 1000 perosnel lengkap dengan peralatan perangnya. Namun Allah memberikan pertolongan dengan menurunkan 5000 malaikat untuk meruntuhkan pertahanan pasukan Quraisy. Peristiwa kemenangan Perang Badar itu terekam dalam Surat Ali Imran ayat 123 – 127.    

Perjuangan atas peperangan juga dirasakan oleh tanah air kita; Indonesia. Puncaknya, keberanian atas pembacaan  Proklamasi pada 17 Agustus 1945, bertepatan dengan 9 Ramadan 1364 H di hari Jum’at oleh Ir. Sukarno dan Drs. Moh. Hatta.

Perjuangan merebut kiemerdekaan itu, tak lepas dari dukungan para kiai dan santri, antara lain KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimejo, M Hatta, Teuku M Hasan, dan lainnya. Keberanian para pejuang bangsa, tentu tak lepas dari berbagai ancaman.

Kerinduan demi kerinduan kembali bermunculan, seakan tidak ada hal yang membahagiakan kecuali pertemuan yang diharapkan. Ketika pengorbanan terjawab dengan kemenangan, dan penantian terjawab dengan kebersamaan, maka yang terakhir kemudian adalah kerinduan atas perjumpaan.

Pada akhirnya, perjumpaan itu bernama kematian. Sebab kematian merupakan gerbang menuju hakikat dari kebenaran, tanpa adanya kepura-puraan. Kematian, menurut Prof. Dr. Komarudin Hidayat, adalah bagian dari hutang dan akan dikembalikan dalam bentuk kebagiaan bertemu dengan Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Di bulan suci ini, tidak ada lagi yang membuat takut untuk menjemput kematian secara optimistis. Bukhari – Muslim telah meriwayatkan sebuah hadits berikrut: “Barang siapa yang beribadah pada Ramadan dengan penuh keyakinan, maka akan diampuni dosa – dosanya yang lalu”.

Itulah keistimwaan Ramadan. Keistimewaan lain, yakni semua pintu surga akan dibuka dan pintu neraka ditutup. Itu menunjukkan, betapa bahagianya orang akan bertemu dengan Allah melalui pintu surga yang dikehendaki. Al-Bani, menyampaikan, bahwa mati dengan keadaan puasa, dijanjikan surga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka tak heran banyak agamawan yang dipertemukan dengan Allah tetap pada saat Ramadan. Seperti Fatimah az Zahra yang wafat pada 3 Ramadan, Sayidina Ali wafat pada 23 Ramadan, Imam Bukhari wafat pada 30 Ramadan, Khalid bin Walid (18 Ramadan), Ibnu Malik (12 Ramadan), Sayidatina Khadijah (11 Ramadhan), dan KH. Hasyim Asy’ari (7 Ramadan). Wallahu a’lam. (*)

Irsyad Roqiyul Azmi,

Penerima Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kemenag RI 2012 di UIN Sunan Ampel, Surabaya. Studi S2 (Program Magister) ditempuh atas beasiswa dari perguruan tinggi tempatnya menyelesaikan studi S1 (Program Sarjana).

Comments