Plt Ketua MATAN: Ulama Indonesia Tersambung Sanad Keilmuannya dengan Ulama Yaman

0
141
Dialog diaspora santri edisi Ramadan bersama PCINU Yaman

JAKARTA, Suaranahdliyin.com – Plt Ketua Umum PP Mahasiswa Ahlit Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (MATAN), Dr M Hasan Chabibie, mengutarakan, Ramadan merupakan momentum yang disediakan Allah sebagai kesempatan berharga bagi manusia, untuk memperbaiki diri.

Demikian disampaikan Dr M Hasan Chabibie dalam dialog diaspora santri edisi Ramadan bersama PCINU Yaman, Sabtu (24/04/2021) kemarin.”Ramadan juga waktu yang tepat untuk menempa dan mengasah kecerdasan,” katanya.

Dia mengemukakan, puasa menjadi ruang mengasah kecerdasan, karena di dalamnya ada tiga elemen, yakni kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan juga kecerdasan spiritual. “Siapapun yang beribadah di saat Ramadan, dilipatgandakan pahalanya. Momentum ini harus kita syukuri, bahwa ada satu masa, satu periode, di mana Allah mempersiapkan bagi kita untuk melatih tiga kecerdasan itu,” paparnya.

Pengasuh Pesantren Baitul Hikmah, Depok, Jawa Barat ini juga menyebut Ramadan sebagai momentum mempersiapkan diri mengarungi kehidupan. “Setelah Ramadan kita akan berhadapan dengan 11 bulan lagi pada Syawal ke bulan-bulan berikutnya, maka harus kita persiapkan. Istikamah adalah kata kunci yang telah dibiasakan selama 30 hari, diharapkan menjadi modal mewarnai fase kehidupan,” tuturnya.

Dr Hasan Chabibie mengemukakan, banyak hal yang perlu dipelajari dari kehidupan muslim di Yaman. “Yaman menjadi sumber pengetahuan. Para ulama Indonesia juga tersambung sanad keilmuannya dengan ulama-ulama Yaman,” ujarnya.

Mustayar PCINU Yaman, H M Abdul Muhith, pada kesempatan itu memaparkan terkait tradisi Ramadan di Yaman yang dinilainya sangat istimewa, karena semua orang beribadah dengan khusyu’.

“Di Yaman, selama Ramadan, semua toko tutup. Setelah Idulfitri, pada hari kedua, rata-rata orang sudah puasa lagi. Jadi, pada Syawal hari kedua sampai tujuh, sebagian besar pada puasa. Nah, saat itu, saya di Yaman seakan-akan kegiatan seperti Ramadhan, warung-warung pada tutup. Mau minum dan makan, kita merasa malu, karena sebagian besar orang berpuasa,” urainya.

Katib Syuriah PCINU Yaman, M Abdurrouf, menyampaikan, banyak kesempatan untuk belajar di Yaman. “Memang ada banyak peluang belajar di Yaman, tetapi harus pandai-pandai mengatur waktu dan memanfaatkan kesempatan,” jelasnya. (rls/ ros, adb, rid)

Comments