
KUDUS, Suranahdliyin.com -Perempuan Fatayat NU harus menjadi pribadi yang berilmu, berdaya, dan memiliki kekuatan mental serta spiritual yang kokoh di tengah tantangan zaman.
Pesan tersebut disampaikan istri Wakil Gubernur Jateng Ning Nawal Arofah dalam talkshow bertema “Perempuan Berkarya: Dakwah Menyapa Dunia” yang digelar Pimpinan Cabang Fatayat Nahdlatul Ulama Kabupaten Kudus di Auditorium Lantai 5 UIN Sunan Kudus, belum lama ini.
Kegiatan tersebut merupakan rangkaian peringatan Harlah ke-76 Fatayat Nahdlatul Ulama yang dikemas melalui acara Fatayat Bersholawat dan talkshow.
Dalam pemaparannya, Ning Nawal menyampaikan bahwa jika perempuan ingin berdaya maka harus mengambil nilai-nilai (value) dari Al Qur’an yaitu Surat Al-‘Alaq. Menurutnya, ayat pertama yang turun kepada Rasulullah SAW, yakni Iqra’, menjadi penegasan pentingnya perempuan untuk terus belajar dan memiliki ilmu.
“Perempuan adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya sekaligus penyokong kekuatan keluarga. Karena itu perempuan tidak boleh berhenti belajar dan mengembangkan diri,” ujarnya.
Ia menjelaskan, perempuan juga harus meluruskan orientasi hidup hanya kepada Allah SWT. Menurutnya, ketika seluruh harapan hanya digantungkan kepada manusia, maka seseorang akan mudah kecewa. Sebaliknya, jika segala sesuatu dilakukan karena Allah, hati akan lebih tenang dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.
Selain itu, Ning Nawal mengingatkan pentingnya sikap tawadhu’ dan semangat berikhtiar. Ia menilai perempuan harus terus berusaha memperbaiki diri, menjaga akhlak, serta menguatkan keluarga melalui doa, pendidikan, dan kasih sayang.
“Perempuan memiliki peran besar dalam membentuk karakter anak-anak dan keluarga. Karena itu, seorang ibu tidak hanya memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga harus menguatkan spiritual anak-anaknya,” katanya.
Ia juga menyoroti tantangan perempuan di era media sosial. Menurutnya, perempuan harus mampu menjaga diri dan bijak menggunakan media sosial agar tidak mudah membuka persoalan pribadi maupun keluarga di ruang publik.
Dalam kesempatan itu, Ning Nawal turut menekankan pentingnya jiwa khidmah dan kepedulian sosial. Ia mengajak kader Fatayat NU untuk hadir membawa solusi terhadap berbagai persoalan sosial di lingkungan sekitar.
Mengutip Surat Al-Muzzammil, ia menyebut qiyamul lail atau salat malam sebagai salah satu sumber kekuatan spiritual seorang mukmin. Menurutnya, ibadah menjadi penopang utama dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
“Rasulullah SAW ketika menghadapi kesulitan selalu kembali kepada salat. Karena itu, kekuatan terbesar seorang perempuan sesungguhnya ada pada ibadahnya,” ungkapnya.
Selain itu, Ning Nawal juga mengingatkan adanya disrupsi di bidang agama pada era digital. Banyak ceramah dan pengajian mudah diakses melalui media sosial, namun belum tentu jelas sanad keilmuannya.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat, khususnya kader Fatayat NU, agar berhati-hati dalam memilih guru dan sumber ilmu agama.
Dalam berdakwah, lanjutnya, Rasulullah SAW mengajarkan prinsip membahagiakan orang lain, tidak mempersulit, dan tidak memecah belah masyarakat. Dakwah harus dilakukan dengan kasih sayang dan semangat merangkul. Dalam berdakwah harus mengedepankan husnuzan, tidak mudah berprasangka buruk, dan tetap menjaga persatuan.
“Mudah-mudahan kader Fatayat menjadi perempuan berdaya dan berdakwah mendunia,”harapnya.(yuliana/adb)





































