
KUDUS, Suaranahdliyin.com – Keluarga besar MTs- MA Nurussalam Besito Gebog Kudus memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-57, Senin, (5/2/2026), Bertempat di aula madrasah, Peringatan harlah diisi dengan Khotmil Qur’an, pembacaan manaqib Syech Abdul Qodir dan membuat tumpeng snack.
Acara harlah tahun ini “Mengabdi Agama Dalam Dunia Pendidikan Membentuk Generasi Berkarakter Islami” dihadiri Pengasuh Ponpes Wasilatul Huda Kendal K.H. Adib Anas Noor serta para tokoh masyarakat sekitar. Para pengurus yayasan, ustaz ustazah dan peserta didik secara bersama melaksanakan Khotmil Qur’an.
Menurut kepala MTs NU Nurussalam Julal Umam, peringatan harlah dengan rangkaian Khotmil Qur’an bertujuan mengharap Keberkahan untuk madrasah agar terus berjaya, diminati dan diidamkan oleh masyarakat. Sedangkan pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani merupakan pembacaan riwayat hidup, akhlak mulia, perjuangan, serta keistimewaan (karamah) seorang wali untuk mendapatkan keberkahan dari Allah melalui perantara (tawassul) wali.
“Kami juga melaksanakan tahlil bersama yang bertujuan untuk mengenang perjuangan sekaligus mendoakan serta meneladani perjuangan para pendiri, pengurus dan guru MTs NU Nurussalam yang telah wafat.”ujarnya
Julal menjelaskan pembuatan tumpeng Snack kreatifitas siswa dan guru mengandung makna makna yang mendalam. Diterangkan filosofi tumpeng melambangkan gunungan sebagai tanda syukur kepada Allah SWT.
“Ini wujud hubungan vertikal hablun min-Allah SWT dan horisontal hablun min al-naas,”ujarnya.
Ia menambahkan tumpeng juga akronim “Yen MeTU Kudu meMPENG” sebagai pengingat pengaruh positif. “Semoga MTs NU Nurussalam terus berjaya dan bersungguh-sungguh untuk terus berbenah menjadi madrasah yang hebat, bermartabat, dan dicintai oleh masyarakat.”terangnya.
Persiapan tim panitia Harlah sangat sederhana, tetapi hasilnya maksimal. “Kami ikuti prinsip sederhana, meriah, dan penuh makna, menekankan bagaimana kesederhanaan justru melahirkan kegiatan berkesan,” imbuhnya.
Peringatan Harlah ini, lanjut Julal, menjadi momentum bagi keluarga besar Nurussalam, mulai dari guru, santri-santri, peserta didik, dan alumni. Pihaknya mengajak seluruh guru dan peserta didik saling handarbeni bahwa Nurussalam adalah milik semua,
“Nurussalam sebagai media sarana pengabdian syiar agama Islam di dunia pendidikan, sesuai dengan kapasitas masing-masing,”imbuhnya.
(Umi Saidatun Nisa, mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI), UIN Sunan Kudus)






































