Penting! Membangun Kesadaran Kesehatan Mental dan Santri Konselor Sebaya di Pesantren

0
34
Ning Nawal saat menyampaikan paparan

WONOSOBO, Suaranahdliyin.com – Upaya menguatkan edukasi kesehatan mental bagi santri penting dilakukan, sebagai langkah mencegah kasus bullying, kekerasan, dan berbagai persoalan psikologis di lingkungan pesantren.

Ketua Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin (Ning Nawal), mengutarakan hal itu saat menjadi narasumber Pesantren Ramah Perempuan dan Anak (Penak), bertema “Membangun Kesadaran Kesehatan Mental dan Santri Konselor Sebaya di Pesantren”, di Pondok Pesantren Al Mubarok, Kabupaten Wonosobo, Senin (15/6/2026).

Menurutnya, kesehatan mental menjadi isu yang harus mendapat perhatian serius, khususnya di kalangan remaja dan santri. Penguatan ketahanan emosional dinilai penting untuk membentuk generasi yang tangguh, di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.

“Kesehatan mental ini menjadi salah satu isu yang terus kita berikan penguatan,” ujarnya.

Ning Nawal menjelaskan, edukasi kesehatan mental tidak hanya dilakukan di lingkungan pesantren, tetapi juga akan diperluas ke sekolah-sekolah melalui berbagai kegiatan pembinaan peserta didik.

“Bukan hanya di pesantren, tapi juga nanti di beberapa sekolah, kami akan mengadakan edukasi kesehatan mental ketika masa orientasi siswa,” kata penulis buku Pesantren Anti Bullying dan Kekerasan Seksual itu.

Disampaikanya, generasi muda saat ini menghadapi tantangan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Kemudahan yang ditawarkan teknologi, seringkali membuat daya tahan mental dan kemampuan menghadapi tekanan perlu diperkuat, melalui pendampingan yang tepat.

“Jadi harapannya dalam situasi di mana Gen Z yang apa-apa serba instan, untuk resiliensi emosinya ini perlu ada penguatan-penguatan dan pembinaan,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, Ning Nawal juga menyoroti masih terjadinya kasus kekerasan dan perundungan di lingkungan pesantren. Berdasarkan data Kanwil Kementerian Agama Jawa Tengah, tercatat terdapat 30 kasus kekerasan di pesantren selama periode 2019 hingga 2025.

Data tersebut menjadi pengingat, upaya pencegahan bullying dan kekerasan harus terus diperkuat melalui edukasi, pengawasan, serta sistem perlindungan yang memadai di lingkungan pesantren.

Karena itu, pihaknya mendorong pembentukan satuan tugas (Satgas) anti-bullying dan antikekerasan di seluruh pesantren di Jawa Tengah, yang jumlahnya mencapai 5.451 lembaga.

Menurut Ning Nawal, keberadaan satgas diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam menciptakan lingkungan pesantren yang aman, nyaman, dan ramah. Apalagi, jumlah santri di Jawa Tengah mencapai 535.940 orang, sehingga membutuhkan perhatian dan perlindungan yang optimal.

Melalui langkah tersebut, Ketua TP PKK Jateng itu berharap, semakin banyak pesantren yang menjadi ruang aman bagi tumbuh kembang santri, sekaligus mampu mendukung kesehatan mental, pembentukan karakter, serta perlindungan terhadap perempuan dan anak.

Seorang santri peserta kegiatan, Dinara Kholidya Safina, mengaku memperoleh banyak wawasan baru terkait kesehatan mental dan pencegahan kekerasan di pesantren. Menurutnya, maraknya kasus bullying yang belakangan terjadi, membuat isu kesehatan mental menjadi penting untuk dipahami oleh para santri.

“Dari seminar ini, saya bisa mengetahui lebih luas, mana bullying atau tidak, mengetahui mana-mana saja batasan bullying, dan menambah wawasan luas juga tentang pesantren ramah perempuan dan anak,” tuturnya. (rls/ ros, adb, gie)

Comments