Halaqah Nasional Jelang Haul ke-6 KH Hasyim Muzadi
Meneladani KH Hasyim Muzadi dalam Beragama dan Bernegara

0
729
Wiranto menyampaikan sambutan dalam pembukaan halaqah

DEPOK, Suaranahdliyin.com – Moderasi beragama menjadi hal yang aktif dipromosikan dan terus diupayakan guna membentuk cara pandang masyarakat yang moderat. Mengingat terus adanya ekstremisme, radikalisme, dan tak terbendungnya ujaran kebencian menjadi salah satu ancaman laten yang tidak boleh luput menjadi perhatian.

“Selalu mengakui, menghormati, dan mampu bekerjasama merupakan ciri dari masyarakat yang religius.” tutur Ketua Wantimpres, Jenderal (Purn) Wiranto saat pembukaan Halaqah Nasional di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam, Depok pada Rabu, (15/3/2023).

Indonesia dengan Pancasila turut menyuguhkan keistimewaan, “Ada rajutan antara sila satu tentang ketuhanan dan pengakuan terhadap agama lain dengan sila ketiga yaitu persatuan Indonesia” kata Wiranto dalam sambutannya di hadapan para santri dan jamaah.

Hal itu selaras dengan apa yang disampaikan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag RI, Dr Waryono, bahwa spirit anak pesantren yang pertama yaitu komitmen terhadap kesatuan Republik Indonesia.

“Perlu dibangun, ukhuwah wathaniyyah dan ruuhul mahad yang menjadi jati diri pesantren sejak didirikan oleh para ulama dari dulu hingga sekarang. Pesantren yang tidak punya komitmen kepada kemanusiaan dan kenegaraan, merupakan penyimpangan dari kultur pesantren yang telah digagas oleh para kiai terdahulu,” tuturnya.

Dengan mengusung tema ‘Moderasi Beragama di Kalangan Pendidik, Dai, dan Santri’, haul ke-6 KH Hasyim Muzadi ini mendapat banyak apresiasi dari narasumber. “Tepat sekali menjelang pemilu kita berbicara moderasi beragama, sehingga pemikiran kita akan tersebar dan dapat ‘mendinginkan’ suasana sehingga ‘tidak mendidih’,” Wiranto kembali menyambung.

Kendati demikian Wiranto berpandangan, suasana panas itu hanya bersifat sementara, setelah pemilu dingin dan utuh kembali. Penyebab utamanya, karena syahwat politik atau syahwat untuk menang, sehingga menghilangkan perasaan kita sebagai bangsa,” paparnya.

Di tengah pembahasan tentang moderasi beragama, Wiranto pun turut menyampaikan kedekatannya dengan sosok pendiri Pesantren Al Hikam Depok tersebut. “Saya sangat bersyukur apa yang banyak diceritakan oleh beliau satu per satu terwujud,” bebernya.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam, Kiai M Yusron Sidqi, dalam sambutannya mengisahkan, bahwa sebelum abahnya wafat, beban pikirannya adalah agama dan Negara. Tentang bagaimana keislaman di Indonesia dan nasib Indonesia.

“Maka sebelum wafat, abah menitipkan dua hal, yaitu menitipkan kepada para kiai dan tokoh agama mengenai Islam di Indonesia. Kemudian menitipkan Indonesia,” ujarnya.

Kiai Yusron menyampaikan, bahwa tidak ada jarak antara Negara dan agama, ini pertemuan antara orang-orang yang memperjuangkan nilai-nilai agama dan negara sekaligus.

“Agama dan Negara bisa bersinergi satu sama lain,” katanya dalam acara yang antara lain dihadiri KH Cholil Nafis (Rais Syuriah PBNU),Prof. Rochmat Wahab (Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan UNY) dan Prof. Dr. Waryono Abdul Ghafur (direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama RI itu. (rls, humas/ msa, ros, rid, adb)

Comments