Lebih Dekat dengan Bulan Penuh Rahmat

0
631

Oleh: Farida Inayati

Sukacita selalu menyertai datangnya Ramadan. Bulan penuh rahmat dan berkah ini, selalu dimaknai dengan sejuta kemuliaan di dalamnya. Di bulan ini, pahala akan dilipatgandakan dan doa-doa akan dikabulkan. Maka dari itu, memperbanyak amal dan ibadah sangatlah baik di bulan penuh rahmat berkah ini.

Namun, alangkah lebih baiknya jika kita memahami dan mengenal lebih dekat apa itu Ramadan yang sesungguhnya. Dengan begitu, kemuliaan akan lebih mudah dinikmati pada bulan ini.

Betapa kecewanya, ketika kita melewati kebersamaan dengan bulan penuh rahmat yang hanya sebentar ini, tanpa bisa benar-benar menikmatinya. Tetiba Ramadan telah pergi, dan kita masih belum bisa menjadi hambaNya yang bertakwa.

Ramadan adalah bulan ke sembilan dalam kalender Islam. Ramadan dirayakan oleh umat Muslim di seluruh dunia dengan puasa, dan memperingati turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad. Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dijalankan.

Ada beberapa keistimewaan Ramadan yang patut kita ketahui, sebagai bahan agar kita lebih bisa memuliakan dan membersamainya dengan sukacita.

Pertama, bulan penuh berkah. Ramadan dikenal sebagai bulan paling mulia, paling agung. Kita semua menunggu kedatangannya. Disebutkan dalam sebuah hadis yang artinya: Ya Allah berikanlah berkah kepada kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadan.

Betapa besarnya keinginan Nabi untuk menyambut Ramadan. Sebab itu menunjukkan ada hal yang istimewa di dalamnya. Yang seharusnya kita lakukan untuk menyambut Ramadan cukup dengan memahami Ramadan dengan baik.

Ramadan adalah bulan penuh keberkahan seperti yang telah kita ketahui. Namun sedikit yang mengetahui keberkahan yang dimaksud. Apa keberkahannya itu? Yaitu Ramadan merupakan bulan penuh pengampunanan dan keberkahan.

Kedua, bulan kebahagiaan. Disebutkan dalam sebuah riwayat yang artinya: bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan, kebahagiaan saat berpuka puasa dan saat bertemu dengan Tuhannya.

Logikanya, watak manusia yang memang suka menikmati makanan, minuman, dan lainnya. Ketika di siang hari dilarang melampiaskan semua keinginannya, dan di awal malam diperbolehkan, maka kebahagiaan luar biasa akan didapat. Bahkan kebahagiaan ini dihitung sebagai ibadah. Maka dikatakan ada dua ketaatan di sini, yakni ketaatan di siang hari (berupa tidak melampiaskan nafsunya) dan ketaatan ketika awal malam hari.

Ketiga, bulan spesial. Ada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa ada lima hal di saat Ramadan diberikan kepada umat Muhammad, yang tidak pernah diterima oleh Nabi-nabi sebelumnya.

Yakni, ketika di awal Ramadan Allah melihat umat Muhammad. Barangsiapa yang dilihat Allah, maka Allah tidak akan menyiksanya. Lalu, bau mulutnya lebih wangi dari minyak misik di sisi Allah. Selanjutnya, malaikat memohonkan ampun bagi umat Muhammad. Selain itu, Allah memerintahkan pada surgaNya untuk bergegas menyiapkan diri menyambut umat Muhammad. Dan ketika malam terahir Ramadan, Allah mengampuni semua dosa-dosa umat Muhammad.

Keempat, lebih utama dari seribu bulan. Sangat tidak asing bagi kita, bahwa Ramadan mempunyai satu malam yang sangat spesial. Barang siapa yang beribadah di malam itu, maka nilainya sama dengan beribadah selama seribu bulan (kurang lebih 83 tahun). Namun, orang yang mendapatkannya, tentu orang pilihan.

Ada sebuah kisah, bahwa Imam An-nawawi semasa kecilnya melihat cahaya yang sangat terang di suatu malam saat Ramadan. Padahal ayahnya yang di sampingnya, tidak melihat cahaya itu. Ini menunjukkan, bahwa hanya orang pilihan yang bisa mendapatkan malam istimewa tersebut. Akan tetapi, kita tetap mendapatkan pahala yang luar biasa jika kita beribadah di malam itu, walaupun kita tidak bisa merasakan kedatangannya.

Akhirnya, semoga kita menjadi hamba yang semakin taat beribadah dan diampuni segala dosa-dosa kita, dengan datangnya Ramadan, bulan penuh rahmat ini. Wallahu a’lam. (*)

Farida Inayati,

Penulis adalah pendidik pada TK Putri Cempa, Gondoharum, Jekulo, Kudus

 

Comments