Keren, 17 Santri Ponpes Tasywiqul Furqon Kudus Lulus “Ujian Nyewu” Alfiyyah  

0
45
Bungah dan bahagia usai lulus ujian hafalan Alfiyyah, para santri abadikan momentum dengan foto bersama pengasuh dan penguji

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Mantap! Atmosfer yang kaya akan nilai-nilai ilmiah Islam memenuhi Pondok Pesantren (Ponpes) Tasywiqul Furqon di Kudus, pada Jum’at, 13 Dzulqa’dah 1447 H/ 1 Mei 2026 M.

Ponpes itu kembali menyelenggarakan momentum bersejarah bagi para santrinya, melalui gelaran “Ujian Nyewu” 1002 Bait Kitab Alfiyyah Ibnu Malik, yang diikuti oleh sebanyak 17 santri yang diberi kesempatan menguji daya ingat dan kedalaman pemahamannya terhadap tata bahasa Arab itu.

Ujian ini memiliki peran yang sangat penting, karena hafalan 1002 bait Alfiyyah ditetapkan sebagai “syarat wajib” yang harus dipenuhi santri, agar dapat dinyatakan lulus dari pondok pesantren.

Proses untuk menyelesaikan hafalan ini bukanlah hal yang gampang. Ke-17 santri itu harus menghadapi dan dinilai langsung oleh empat penguji yang terdiri atas K Ahmad Shofi Lutfi Lc MH, Ustaz Noor Rohim, Ustaz Muhammad Fatkhul Umam dan Ustaz Khoirul Ma’arif SAg.

KH Ahmad Bahruddin SPdI MPd PhD (Cand.), menyampaikan, kewajiban hafalan ini memiliki makna yang lebih dalam dibandingkan sekadar persyaratan administratif kelulusan.

“Ini untuk melestarikan tradisi menghafal atau mengingat teks-teks klasik, terutama kemampuan dalam ilmu i’jaz yang tercantum dalam 1002 bait tersebut,” terang pengasuh Ponpes Tasywiqul Furqon Kudus itu.

Disampaikan olehnya, bahwa penguasaan tata bahasa Arab yang tinggi adalah kunci yang sangat penting untuk memahami berbagai ilmu agama lainnya, seperti tafsir, hadis, dan fikih secara detil.

“Kitab Alfiyyah ditulis oleh seorang ulama besar yang ahli dalam ilmu nahwu dan sharaf, yaitu Muhammad bin Abdullah bin Malik al-Andalusi yang berasal dari Andalusia (Spanyol) pada abad ke-7 Hijriah,” tuturnya.

Dalam pandangannya, di tengah perkembangan zaman modern yang cepat, dijadikannya hafalan Alfiyyah sebagai syarat kelulusan, menunjukkan komitmen pesantren dalam mempertahankan keaslian ilmu Islam.

“Studi kitab kuning dan teks akademik klasik seperti Alfiyyah, merupakan langkah strategis untuk menyelaraskan penguasaan ilmu agama yang mendalam dengan pemahaman yang luas, sehingga dapat membangun karakter santri yang kuat, berintegritas, dan tidak mudah terpengaruh oleh arus,” katanya.

Untuk itu, dia berharap, agar kesuksesan 17 santri dalam memenuhi syarat Ujian Nyewu, menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya di Ponpes Tasywiqul Furqon Kudus.

“Jadikan kesuksesan santri-santri yang telah lulus ujian hafalan Alfiyyah ini, untuk selalu menyintai, menghidupkan, dan melestarikan warisan ilmu dari para ulama terdahulu,” pesannya. (ros, gie/ adb, rid)

 

Comments