MATAMUDA
Gandeng PEKA Muria, MTs NU Raden Umar Sa’id Tanamkan Kepedulian Kelestarian Alam

0
149
Pegiat Komunitas PEKA Muria bersama murid baru MTSNU Sunan Muria Colo Usai ceramah materi Ekoteologi

KUDUS, Suaranahdliyin, com– Dalam upaya menanamkan kepedulian terhadap kelestarian alam, MTs NU Raden Umar Said Colo Dawe Kudus memberikan edukasi Ekoteologi kepada peserta didik baru dalam Masa Ta’aruf Murid Madrasah (MATAMUDA) yang berlangsung pada 13–16 Juli 2026 di aula madrasah Materi Ekoteologi ini sebagai

Dengan menggandeng komunitas PEKA Muria untuk, Materi Ekoteologi menjadi salah satu agenda pembekalan peserta didik baru untuk mengenalkan hubungan antara ajaran Islam dan tanggung jawab manusia dalam menjaga kelestarian lingkungan. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya madrasah membangun karakter peserta didik sejak awal memasuki lingkungan pendidikan.

Kepala MTs NU Raden Umar Sa’id, H. Zaenal Arifin, mengatakan MATAMUDA bukan sekadar kegiatan pengenalan lingkungan madrasah, melainkan proses pembinaan awal untuk membentuk karakter peserta didik.

“MATAMUDA bukan sekadar pengenalan lingkungan madrasah, tetapi proses pembinaan awal untuk menanamkan nilai-nilai kedisiplinan, akhlakul karimah, semangat belajar, cinta lingkungan, serta penguatan karakter Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah,” ujarnya.

Menurut Zaenal, MATAMUDA dirancang untuk membantu peserta didik baru beradaptasi dengan lingkungan madrasah yang edukatif, ramah anak, dan inklusif. Selain mengenalkan budaya belajar di madrasah, kegiatan tersebut juga bertujuan menumbuhkan rasa percaya diri, kebersamaan, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Ia berharap MATAMUDA mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul dalam prestasi akademik, tetapi juga berakhlak mulia, peduli terhadap sesama, serta memiliki kesadaran menjaga kelestarian alam sebagai bagian dari pengamalan ajaran Islam.

Dalam sesi Ekoteologi, pemateri dari PEKA Muria, M. Ridwan, menjelaskan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari amanah Allah SWT kepada manusia sebagai khalifah di bumi. Karena itu, pelestarian alam bukan hanya menjadi tanggung jawab sosial, tetapi juga bagian dari ibadah dan implementasi nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk memperkuat pemahaman peserta, Ridwan menayangkan film dokumenter Pusparagam Muria yang memperkenalkan kekayaan hayati Pegunungan Muria. Film tersebut menampilkan berbagai satwa khas Muria, seperti macan tutul jawa, elang jawa, cicak batu muria Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan beragam flora khas Muria, antara lain Pohon Gondang (ficus), Pohon Meranak (Castanosis), parijotho (Medinila) serta berbagai jenis tumbuhan obat yang tumbuh di kawasan hutan pegunungan.

Ridwan mengingatkan bahwa sebagian satwa dan tumbuhan tersebut kini menghadapi ancaman akibat kerusakan habitat, perburuan liar, serta alih fungsi lahan. Karena itu, menjaga kelestarian Pegunungan Muria menjadi tanggung jawab bersama agar kekayaan hayati tersebut tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

Selain membahas kekayaan alam Muria, Ridwan juga mengenalkan konsep ekoteologi yang telah lama hidup dalam budaya masyarakat setempat melalui tradisi Sewu Kupat, Sedekah Bumi, Guyang Cekatak, serta bancaan atau selametan. Tradisi tersebut merupakan wujud rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dan alam.

Selain pembekalan di dalam kelas, pihak madrasaj juga mengajak peserta didik baru berziarah ke makam Sunan Muria sebagai penutup rangkaian MATAMUDA. Kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan jejak dakwah salah satu Wali Songo yang menyebarkan Islam melalui pendekatan budaya dan kearifan lokal.

Melalui ziarah tersebut, peserta didik diajak meneladani perjuangan Sunan Muria dalam menyebarkan ajaran Islam yang selaras dengan nilai-nilai pelestarian alam, gotong royong, dan penghormatan terhadap tradisi masyarakat.(yuliana/adb)

Comments