
KUDUS, Suaranahdliyin.com – MTs NU Raden Umar Sa’id Colo, Dawe, Kudus menggelar Kemah Ta’aruf dan Penerimaan Tamu Penggalang (PTP) di D’TJOLO ECO PARK, Colo, Kudus, Rabu-Kamis (23–24/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pendidikan kepramukaan untuk membentuk peserta didik yang berkarakter, mandiri, disiplin, berakhlakul karimah, dan peduli terhadap sesama.
Saat memvuka kegiatan ini, Kepala MTs NU Raden Umar Said Colo H. Zaenal Arifin menegaskan bahwa kepramukaan memberikan pengalaman pendidikan yang tidak selalu diperoleh siswa di dalam kelas.
“Di sekolah, kalian belajar berbagai ilmu pengetahuan. Namun melalui kegiatan kepramukaan, kalian belajar sesuatu yang tidak selalu bisa diperoleh hanya dari buku dan ruang kelas,” ujarnya.
Ia menyebut kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, kepemimpinan, kepedulian, dan keberanian menghadapi tantangan sebagai nilai penting yang dapat dibangun melalui kegiatan kepramukaan. Menurutnya, kemampuan menghadapi kesulitan juga menjadi bagian penting dari proses pembentukan karakter.
“Orang yang hebat bukanlah orang yang tidak pernah menghadapi kesulitan. Orang yang hebat adalah orang yang mampu melewati kesulitan dengan sabar, disiplin, dan tetap menjaga sikap,” katanya.
H. Zaenal Arifin juga mengingatkan peserta agar tidak merasa paling hebat, paling kuat, maupun paling pintar. Sebaliknya, setiap peserta diharapkan mampu saling membantu dan menguatkan.
“Selama perkemahan, peserta didik harus tetap menjaga ibadah dan akhalk,”pesannya. .
“Siswa MTs NU Raden Umar Sa’id mampu membawa nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi generasi yang beriman, berakhlak mulia, disiplin, mandiri, bertanggung jawab, cinta tanah air, serta peduli terhadap sesama,” harap H. Zainal Arifin.
Pesan-pesan tersebut selaras dengan rangkaian kegiatan yang dirancang tidak hanya berupa materi kepramukaan, tetapi juga aktivitas kelompok dan berbagai perlombaan. Pada hari pertama, peserta mengikuti materi sandi semaphore, kepenggalangan, lomba PBB dasar, lomba memasak, api unggun, dan pentas seni.
Pendidikan karakter dalam kemah tersebut juga dipadukan dengan pembiasaan ibadah melalui salat berjamaah, berjanjen, dan kultum dengan pendampingan guru.
Memasuki hari kedua, peserta mengikuti materi kepemimpinan, dinamika kelompok (outbound), LCTP, bakti sosial, hingga upacara penutupan dan pembagian hadiah.
Sementara itu, Waka Kesiswaan MTs NU Raden Umar Sa’id, Yuliana Kurniawati, saat penutupan mengingatkan peserta agar nilai-nilai yang diperoleh selama kemah tidak berhenti setelah kegiatan selesai.
“Jangan sampai setelah kemah selesai, pengalaman dan nilai-nilai yang kalian dapatkan juga ikut selesai,” ujarnya.
Ia meminta peserta menunjukkan perubahan positif ketika kembali ke madrasah, terutama dengan menjadi pribadi yang lebih disiplin, mandiri, bertanggung jawab, peduli kepada teman, menghormati guru, dan mampu menjaga nama baik sekolah.
Menurut Yuliana, Penerimaan Tamu Penggalang juga bukan sekadar kegiatan seremonial. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari proses pembentukan anggota Pramuka agar mampu memahami sekaligus mengamalkan nilai-nilai Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka.
“Jangan hanya hafal Tri Satya dan Dasa Darma, tetapi mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Dengan demikian, kemah tidak berhenti sebagai pengalaman dua hari di bumi perkemahan. Nilai-nilai yang diperoleh diharapkan menjadi bekal bagi siswa untuk membangun karakter dan menerapkannya di madrasah, keluarga, maupun lingkungan masyarakat.
Kegiatan Kemah Ta’aruf dan PTP Tahun Ajaran 2026/2027 tersebut mengusung tema “Membentuk Pramuka yang Berkarakter, Mandiri, Disiplin, Berakhlakul Karimah, dan Cinta Sesama.”(malfa/adb(



































