
KUDUS,Suaranahdliyin.com– Dewan Koordinasi Cabang (DKC) Corp Brigade Pembangunan (CBP) dan Korps Pelajar Putri (KPP) Kabupaten Kudus menggelar Diklat Kemanusiaan dengan materi mitigasi bencana serta penguatan Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) di Aula Kantor PCNU Kudus Rabu (8/10/2026). Diikuti puluhan kader CBP dan KPP Kudus.para peserta digembleng teori dan praktik relawan dalam menghadapi bencana.
Komandan Dewan Koordinasi Cabang (DKC) CBP Kabupaten Kudus Muhammad Shochibul Wafa mmengatakan latihan ini menjadi fondasi utama dalam membentuk relawan kemanusiaan yang tangguh, cepat, dan terukur saat menghadapi potensi bencana alam di Kudus, seperti banjir tahunan di wilayah dataran rendah maupun ancaman tanah longsor di kawasan lereng Gunung Muria. Disinilah, pentingnya kedisiplinan dan porsi latihan yang berat bagi relawan muda.
“Kami selalu menanamkan satu doktrin utama kepada seluruh kader: Lebih baik gagal di medan latihan dari pada gagal di medan kebencanaan”tegas Wafa.
Ia mengungkapkan kesalahan saat latihan bisa langsung dievaluasi dan diperbaiki. “Namun di lokasi bencana nyata, kesalahan sekecil apa pun mempertaruhkan keselamatan jiwa warga yang sedang dievakuasi.” tandas Wafa.

Ketua Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Kudus Rizky Nailil Chusna menegaskan bahwa penanganan kebencanaan modern tidak hanya mengandalkan ketahanan fisik dan niat baik semata. “Keakuratan tata kelola data serta kepekaan pendampingan psikososial kini menjadi dua pilar utama yang harus dikuasai oleh para relawan kemanusiaan, khususnya kader Korps Pelajar Putri (KPP).” ujarnya.
Chusna menilai keberadaan Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) sebagai tulang punggung operasional di lapangan. Tanpa validasi data yang presisi, penyaluran bantuan dan proses evakuasi berisiko tumpang tindih maupun tidak merata.
“Aksi kemanusiaan harus bergerak dengan kecerdasan data. Tim Pusdatin bertugas memastikan peta kebutuhan logistik dan jumlah pengungsi tercatat secara akurat. Data yang valid bukan sekadar angka, melainkan panduan agar setiap uluran tangan kita benar-benar tepat sasaran dan tidak ada warga terdampak yang terlewatkan,”tegasnya.
Ia menambahkan bahwa kecermatan data sangat krusial untuk mengidentifikasi kebutuhan spesifik kelompok rentan, seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, dan lansia di posko pengungsian.
“Selain sektor data, perhatian utama IPPNU Kudus tertuju pada pemulihan kondisi mental dan emosional warga di tempat pengungsian.” tambahnya.
“Kader KPP dibekali keterampilan untuk memimpin aksi pendampingan psikososial dan trauma healing, ” sambung Chudna.
Melalui integrasi antara kecermatan data Pusdatin dan pendekatan emosional yang inklusif, PC IPPNU Kabupaten Kudus berkomitmen mencetak kader KPP yang tidak hanya tangguh di medan latihan, tetapi juga sigap, empati, dan profesional saat diterjunkan di tengah masyarakat.
“Sinergi antara kesiapsiagaan fisik, perencanaan mitigasi bencana yang matang, serta keandalan sistem Pusdatin membuktikan bahwa CBP-KPP Kabupaten Kudus siap menjadi benteng kemanusiaan yang tangguh, cerdas, dan diandalkan masyarakat di saat kritis.” Kata Chusna. (Khasanul Muna/adb)



































