Teladan Nyai Solichah Wahid Hasyim

0
585
Exif_JPEG_420

Tanggal 22 Oktober menjadi hari yang sangat penting bagi para santri, kini. Yakni setelah ditetapkannya 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional (HSN) oleh Presiden RI Joko Widodo beberapa tahun lalu.

Banyak tokoh kiai (santri) diangkat ke permukaan. Teladan-teladan dari para santri-kiai, diharapkan menjadi inspirasi bagi para santri dan generasi muda saat ini dan masa-masa yang akan datang.

Namun kiranya, perempuan santri tidak sebanyak santri laki-laki yang muncul di permukaan. Padahal tidak sedikit perempuan-perempuan santri, yang memiliki kiprah demikian besar bagi perkembangan pendidikan, dakwah Islam, bahkan menjadi pejuang kemerdekaan.

Salah satu sosok yang sangat layak menjadi teladan, yaitu Nyai Sholichah Wahid Hasyim. Bukan lantaran perempuan hebat ini adalah ibunda dari KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), melainkan karena perjuangannya yang sangat besar bagi Nahdlatul Ulama (NU) dan bangsa ini.

Sebagai istri tokoh NU yang memiliki peran penting dalam mempersiapkan Indonesia merdeka, misalnya, Nyai Nyai Sholichah sangat memahami, bahwa suaminya, KH. Wahid Hasyim, bukan sekadar miliknya dan keluarganya. Melainkan juga milik NU dan bangsanya.

Kesadaran Nyai Sholichah itu antara lain bisa dibaca dalam buku ‘’Ibuku Inspirasiku: Nyai Sholichah Wahid Hasyim (Ibunda Gus Dur dan Gus Sholah)’’ yang diterbitkan oleh Pustaka Tebuireng.

Jasanya yang begitu besar, juga bisa dilihat saat dengan beraninya menjadikan kediamannya di Taman Matraman Barat No. 8 sebagai semacam posko bagi banyak tokoh muda NU, saat masa-masa genting, yakni pada peristiwa G-30 S PKI di awal Oktober 1965.

Untuk NU, perjuangannya yang tak bisa dipandang remeh, yaitu aktif di Muslimat NU mulai dari tingkat bawah, membentuk ranting, lalu naik ke tingkat cabang, wilayah, hingga akhirnya di kepengurusan pusat Muslimat NU. Sehingga Gus Dur menyebut ibundanya sebagai orang yang ‘’Gila Muslimat’’.

Dan perjuangannya untuk keluarga, terlebih dalam mendidik anak-anaknya, demikian hebat. Terlebih, ia harus mengasuh putra-putrinya seorang diri, sepeninggal KH. Wahid Hasyim. Nyai Solichah ketika suaminya wafat, usianya baru menginja 30 tahun.

Di usianya yang masih relatif muda, Nyai Solichah Wahid Hasyim telah memikul beban yang tidak ringan; membesarkan putra-putrinya dan memberikan pendidikan formal yang setinggi-tingginya. Semoga keteladanan Nyai Solichah Wahid Hasyim, bisa menginspirasi generasi muda saat ini. (ros)

Comments