Mengenang Hadlratusy Syaikh
Sang Bunda Mimpi Kejatuhan Bulan Saat Mengandung Hasyim Asy’ari

0
614
M. Qomarul Adib

Setiap 7 Ramadan, warga Nahdlatul Ulama (NU) selalu mengingat seraya mendoakan pendiri NU almarhum wal maghfurillah KH. Muhammad Hasyim Asy’ari. Pasalnya, pada 7 Ramadan, 75 tahun lalu, yakni 7 Ramadan 1366 H/ 25 Juli 1947, adalah hari wafatnya hadlratusy syaikh, di Jombang.

Isyarat bahwa kelak Hasyim Asy’ari akan menjadi orang besar, sudah didapat ibundanya saat mengandung. Saat mengandung, istri Kiai Asy’ari sudah mengalami keanehan.

Dalam buku “Sedjarah Hidup KH.A. Wahid Hasjim dan Karangan Tersiar” karya H. Aboebakar (1958), diceritakan ihwal mimpi Halimah (ibunya) saat awal mengandung jabang bayi KH.Hasyim. Pada waktu tidur tengah malam, ia bermimpi melihat bulan purnama jatuh dari langit yang menimpa perutnya.

Seketika itu, Nyai Halimah terbangun dengan hati berdebar-debar dan menggigil seluruh tubuhnya, saking takutnya. Kejadian itu Halimah ceritakan kepada sang suami, namun Kiai Asy’ari justru diam, terpesona.

Ketika Hasyim Asy’ari lahir, bidan yang merawat kelahirannya merasakan hal berbeda daripada bayi kebiasaannya. Bidan ini melihat beberapa tanda keistimewaan saat memandang wajah Hasyim Asy’ari yang yang masih mungil.

“Kami berkeyakinan, kelak bayi ini akan menjadi seorang pemimpin besar dan terkenal dalam zamannya,” ujar bidan yang tidak tertulis namanya itu.

Memasuki masa kanak-kanak, tanda-tanda keistimewaan Hasyim Asy’ari kian nampak. Saat bermain bersama teman-temannya, Hasyim kecil telah menunjukkan jiwa kepemimpinannya.

“Setiap ia melihat ada temannya yang curang atau menyimpang dari peraturan permainan, Hasyim tidak segan-segan menegur dan mengingatkan,” jelas Aboebakar dalam buku karyanya.

Dan tanda – tanda keistimewaan itu, akhirnya menjadi kenyataan. Hasyim Asy’ari tumbuh sebagai santri yang cerdas, dan kemudian menjadi ulama dengan reputasi dan jaringan internasional.

Potret KH. M. Hasyim Asy’ari

Dan di Indonesia, selain kiprahnya dalam mendidik para santri melalui Pondok Tebuireng yang didirikan, kelak ia dikenal sebagai salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), dan juga rujukan para pejuang di masa revolusi untuk meminta nasihat. KH. Hasyim Asy’ari pula yang mengeluarkan resolusi jihad, yang kemudian diperingati sebagai Hari Santri Nasional (HSN).

Semoga kiprah dan perjuangannya, menjadi teladan para generasi penerus bangsa kini, khususnya para kader dan warga Nahdliyin. (M. Qomarul Adib, Pemimpin Umum Suaranahdliyin.com)

Comments