Rais Syuriyah NU Pati : Hati-hati Baca Medsos

0
354
Rais Syuriah NU Pati, KH. M. Aniq Muhammadun pada Darusan Umum Menara, Ahad (26/05/19)

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Pati, KH. M. Aniq Muhammadun menyampaikan pesan agar masyarakat bisa berhati-hati dalam membaca sebaran konten di media sosial (medsos). Demikian itu ia sampaikan dalam acara Darusan Umum Pengajian Pitulasan Menara Kudus di Gedung YM3SK, Ahad (26/05/19).

“Sebab di media sosial hari ini masih banyak tulisan yang dibuat oleh kelompok garis keras yang membahayakan,” katanya.

Kemudian ia juga menceritakan pengalamannya menghadapi seseorang yang memiliki nalar radikal dalam menyikapi sebuah fenomena. Orang seperti itu, lanjut Kiai Aniq, ternyata bukan sebab kurangnya pengetahuan, tetapi karena terlalu sering membaca konten media sosial yang radikal tanpa bisa memilahnya.

“Setelah saya tanya, jawabnya ternyata dia suka membaca media sosial yang isinya memang keras, makanya hati-hati kalau membaca medsos,” tutur putra ke-6 KH. Muhammadun Pondowan ini.

Sebelumnya, pengasuh Pondok Pesantren Manbaul Ulum Pakis ini memaparkan perihal pentingnya memahami sebuah ilmu dengan baik. Menurutnya, seseorang yang berilmu akan bisa memandang sesuatu dengan jernih sehingga dapat bersikap arif dan bijaksana.

“Dengan berilmu kita akan bisa menyikapi fenomena yang terjadi di masyarakat dengan arif dan bijaksana,” ujarnya.

Ia juga memberi teladan terkait cara orang berilmu menghadapi suatu perbedaan. Orang berilmu, kata dia, tidak akan mempersoalkan hal-hal remeh yang sekiranya memancing perdebatan dalam masyarakat. Orang yang berilmu akan secara bijak mengambil sikap dengan menyesuaikannya dengan budaya masyarakat tersebut.

“Kalau sudah tahu bahwa kita bangsa Indonesia ini berbeda, maka tinggal memposisikan diri, menyesuaikan bagaimana budaya ini bisa berjalan dengan baik. Itu kalau orang berilmu pasti arif dan bijak,” jelasnya.

Lebih lanjut, Kiai Aniq juga memaparkan bahwa orang yang berilmu tidak akan mudah menyalahkan hanya sebab perbedaan sepele. Ia mencontohkan sebuah peristiwa ketika dirinya menemui perdebatan kusir tentang keutamaan menyolati dan mengiring jenazah.

“Mengiring jenazah itu baiknya di depan mayit atau di belakangnya, itu kan soal keutamaan saja, bukan hal pokok, dan keduanya juga ada pendapatnya masing-masing dari para ulama, jadi tidak usah dipersoalkan. Sampai terkadang hanya karena hal sepele semacam itu bisa bertengkar dengan saudara sendiri,” paparnya mengingatkan.

Selain KH. M. Aniq Muhammadun acara Darusan Umum Pengajian Pitulasan Menara Kudus ini juga bakal menghadirkan sejumlah muballigh ternama. Diantaranya, Dr. KH. Abdul Ghofur Maimoen (Sarang) pada Senin (27/05/19), KH. Bahauddin Nur Salim (Gus Baha’) pada Rabu (29/05/19) dan KH. Habib Umar al-Muthohhar (Semarang) pada Kamis (30/05/19). Pengajian dimulai setiap bakda salat tarawih, yaitu sekitar pukul 20.30 WIB. (rid/adb)

Comments