Puasa Ramadan Melatih Diri untuk Disiplin, Sabar dan Tawadlu

0
800

Oleh: A’isy Hanif Firdaus SAg

Puji syukur atas karunia Allah, kita berada di bulan yang penuh rahmah dan ampunan Allah, yaitu bulan suci ramadan.

Sebagian dari hikmah puasa adalah meningkatkan ketakwaan kepada Allah, dan dengan segala upaya melakukan kebaikan-kebaikan guna menempa diri di bulan suci Ramadan.

Puasa Ramadan yang kita lakukan, tidak hanya berkutat pada menahan lapar dan dahaga semata, tetapi juga dengan turut memperbaiki diri secara vertikal, horizontal, jasmani dan rohani dengan kebaikan-kebaikan yang bernilai ibadah.

Allah berfirman dalam Surat al-Baqarah ayat 183:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ ‌لَعَلَّكُمْ ‌تَتَّقُونَ

 

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).

Tafsir yang dikeluarkan Kemenag RI atas ayat tersebut, bahwa Allah mewajibkan puasa kepada semua manusia yang beriman, sebagaimana diwajibkan kepada umat-umat sebelum mereka supaya mereka menjadi orang yang bertakwa. Jadi, sejatinya puasa ini sungguh penting bagi kehidupan orang-orang yang beriman.

Maka jika kita telusuri macam-macam agama dan kepercayaan, bisa dipastikan bahwa kita akan menjumpai bahwa puasa adalah salah satu ajaran yang umum, untuk menahan hawa nafsu dan lain sebagainya.

Dalam ilmu yang bersifat duniawi, untuk memperoleh apa yang dinamakan kesaktian juga dibutuhkan puasa atau yang orang Jawa sebut dengan lelaku, tirakat atau riyalat.

Jika diperhatikan pula, perintah berpuasa itu diturunkan pada Syakban tahun kedua Hijriah, di mana Nabi Muhammad mulai membangun pemerintahan yang berwibawa dan mengatur masyarakat baru, maka dapatlah dirasakan, bahwa puasa itu sangat penting artinya dalam membentuk manusia yang dapat menerima dan melaksanakan tugas-tugas besar dan suci.

Pada momentum Ramadan, seseorang dididik rohaninya, jiwanya dan juga hatinya untuk memiliki rasa keikhlasan dalam beribadah (puasa).

Bisa saja kita berbohong jika sedang tidak berpuasa tetapi di hadapan orang lain mengatakan sedang berpuasa, akan tetapi Allah maha mengetahui. Artinya, puasa hanya bisa dilaksanakan dengan keikhlasan.

Sudah mafhum, puasa akan mendidik dirinya untuk disiplin; kapan waktunya berbuka atau sahur, misalnya. Dengan itu, seorang muslim akan terdidik menjadi pribadi yang disiplin dan sabar, akan terbentuk sifat tawadlu. Selain itu, Ramadan mengajarkan untuk peduli sesama. Wallahu a’lam bi al-Showab. (*)

A’isy Hanif Firdaus SAg, adalah pengurus Lembaga Ta’lif Wan Nasyr (LTN) PCNU Kabupaten Brebes.

Comments