New Normal
Patuhi Protokol, Muwadda’ah MA NU Miffa Tetap Digelar

0
306
KH. Ahmad Arwan saat hadir di muwaddaah

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MA NU) Miftahul Falah (Miffa) menggelar muwaddaah (perpisahan) kelas XII secara terbatas pada Ahad, (28/6/2020). Dengan begitu muwaddaah sedianya digelar dua kali kesempatan untuk menghindari berkumpulnya orang dalam jumlah banyak.

Wakil Kepala MA bidang Humas, Sarana dan Prasarana, Machsun Hadi, menjelaskan, MA NU Miffa melaksanakannya sesuai protokol Kesehatan di era new normal. Sesi pertama, kata dia, hanya wisudawan putri saja yang datang ke madrasah. Mereka diharuskan memakai masker dan jaga jarak.

“Penataan kursi juga kami atur berjarak dan menyediakan hand sanitizer di titik-titik tertentu,” ujar Machsun.

KH. M. Masyfu’ie, salah satu pembicara dalam acara ini, berharap agar ilmu yang didapat para wisudawan selama belajar di madrasah dapat bermanfaat. “Saya berharap kalian bisa terjun dan menempatkan diri dengan baik di tengah masyarakat. ”

Senada dengan itu, KH. Ahmad Arwan juga menegaskan agar para wisudawan senantiasa berusaha mengamalkan ilmunya. Karena ilmu merupakan tanggung jawab pemiliknya. “Sebagaimana dikatakan bahwa al-ilmu bilaa amalin majnunun, wal ‘amalu bilaa ilmin mustahilun, ilmu tanpa amal itu setres, dan amal tanpa ilmu itu sia-sia,” jelasnya.

Selain itu, beliau juga berpesan untuk menjauhi tiga sifat berbahaya yaitu drengko (gk tau indonesianya), sombong dan riya (pamer). “Nabi Adam karena drengko buah khuld, dikeluarkan dari surga ke dunia. Iblis karena sombong menjadi makhluk yang dilaknat. ”

Prosesi muwaddaah berjalan dengan khidmah

Sedang perihal bahaya riya, dia menceritakan sebuah kisah. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani pernah mendapati muridnya berpuasa sunah karena riya. Disuruhnya orang tersebut membatalkan puasa dengan jaminan pahala yang setara dengan satu bulan berpuasa. Namun orang tersebut menolak, hingga Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menaikkan jaminan menjadi satu tahun dan orang tersebut tetap menolak.

Tak sampai di situ, jaminan pun dinaikkan kembali menjadi seumur hidup orang tersebut. “Batalkan! Puasamu saya tanggung seumur hidupmu, “kata Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dalam cerita Kiai Arwan. “Namun orang tersebut tetap tidak mau, sehingga ia mati dalam keadaan suul khatimah, naudzubillah,” kisahnya. (amrina/ rid, adb, gie)

Comments