Menelaah Perkembangan dan Popularitas Batik Bakaran Juwana

0
802

Oleh: Mohammad Fahtur Rohman

Batik sebagai salah satu warisan budaya Indonesia, terus mengalami perkembangan dan adaptasi seiring dengan perkembangan zaman. Salah satu tren terkini yang menarik perhatian adalah “Batik Bakaran Juwana Pati.”

Melalui perpaduan pesona tradisi dan inovasi kreatif, Batik Bakaran Juwana Pati kini menjadi salah satu batik di tanah air -paling tidak di seputaran Kawasan Pantura Timur Jawa Tengah- yang menyuguhkan karya seni seni yang unik nan memesona.

Keterampilan membatik tulis bakaran di Desa Bakaran, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati tak lepas dari didikan Nyai Banoewati, penjaga museum pusaka dan pembuat seragam prajurit pada akhir Kerajaan Majapahit abad ke-14.

Motif batik yang diajarkan Nyai Banoewati adalah motif batik Majapahit, misalnya Sekar Jagat, Padas Gempal, Magel Ati dan Limaran. Sedang motif khusus yang diciptakan Nyai Baneowati yaitu motif Gandrung. Motif itu terinspirasi dari pertemuan dengan Joko Pakuwon, kekasihnya, di Tiras Pandelikan.

Alkisah, suatu Ketika Joko Pakuwon berhasil menemukan Nyai Banoewati. Kedatangan Joko Pakuwon membuat Nyai Banoewati yang tengah membatik, bungah. Sehingga tanpa sengaja, tangan Nyai Banoewati mencoret kain batik dengan canting berisi malam, yang memang saat itu aktivitasnya disibukkan dengan membatik.

Coretan itu membentuk motif garis-garis pendek. Di sela-sela waktunya, Nyai Banoewati menyempurnakan garis-garis tersebut menjadi motif garis silang, yang melambangkan kegandrungan atau kerinduan yang tak terobati.

Motif-motif khas itu perlu mendapat perlakuan khusus dalam pewarnaan. Pewarnanya pun harus menggunakan bahan-bahan alami. Misalnya, kulit pohon tingi yang menghasilkan warna cokelat, kayu tegoran warna kuning, dan akar kudu warna sawo matang.

Sayangnya, bahan-bahan pewarna itu, kini sudah sulit ditemui. Waktu itu, batik bakaran menjadi komoditas perdagangan antarpulau melalui Pelabuhan Juwana dan menjadi tren pakaian para pejabat Kawedanan Juwana. Namun, meski kesulitan bahan pewarna, batik tulis bakaran banyak peminat.

Saat ini, warga Bakaran, selain melestarikan motif Nyai Banoewati, juga mengembangkan aneka macam motif kontemporer, antara lain motif Pohon Druju (Juwana), Gelombang Cinta, Kedelai Kecer, Jambu Alas dan Blebak Urang. Yang kemudian menjadi ciri khas batik bakaran adalah motif retak atau remek-nya.

Ada beragam proses dalam pembuatan batik bakaran, yakni mulai dari nggirah, nyimplong, ngering, nerusi, nembok, medel, nyolet, mbironi, nyogo dan nglorod. Proses ini bertahap mulai dari yang pertama sampai terakhir. Bila sudah selesai maka corak batik sudah bisa dinikmati. Tahapan-tahapan tersebut dikerjakan perajin secara manual, tanpa ada alat-alat baru seperti cap, printing, sablon, dan lainnya.

Dulu para perajin sebelum proses membatik dimulai, mereka melakukan ritual dulu. Ada yang puasa tiga hari, sepekan, bahkan ada yang sampai sebulan, bahkan 40 hari. Setelah melakukan puasa, perajin melakukan pertapaan (nyepi), dengan tujuan mendapatkan inspirasi (ilham), sehingga suatu ketika atau secara tiba-tiba tanpa disadari mendapat gambaran/ bayangan motif batik yang akan dibuat.

Biasanya, motif menggambarkan kondisi masyarakat yang ada, dan memberikan pesan moral pada masyarakat. Namun ada juga yang menjadi penanda latar belakang si perajin itu sendiri. Atau dengan kata lain, setiap motif batik itu memiliki makna, maksud dan pesan moral yang hendak disampaikan kepada publik.

Dan tren batik bakaran Juwana kian popular, lantaran berhasil menyatukan elemen tradisional dengan nuansa modern yang menarik. Desain-desain batik yang dihasilkan memadukan motif-motif tradisional seperti kawung, parang dan flora-fauna dengan sentuhan inovatif dalam pemilihan warna dan tata letak yang kreatif. Hal itu menciptakan harmoni yang menakjubkan antara keindahan tradisi dan kebaruan.

Selain itu, batik bakaran Juwana juga memberikan kontribusi positif bagi perekonomian lokal. Tren ini telah menarik minat banyak kalangan, baik dari dalam maupun luar Negeri. Produk batik yang dihasilkan tidak hanya digunakan sebagai kain untuk pakaian, juga untuk aksesori fashion seperti tas, sepatu atau untuk dekorasi. Itu membuka peluang bisnis yang menjanjikan bagi para perajin dan seniman batik di Pati.

Melihat potensi dan popularitasnya, tak ayal pemerintah daerah memberikan dukungan terhadap pengembangan batik bkaran Juwana, antara lain dengan menggelar pelatihan dan workshop bagi perajin batik untuk meningkatkan skill dan kapasitasnya. Dukungan juga diwujudkan dengan melibatkan para perajin dalam promosi produk melalui beragam pameran.

Salah satu kreasi batik bakaran Juwana

Batik bakaran Juwana pun terus berkembang di berbagai kalangan. Keunikan dan keindahan karya seni batik ini menjadikan Indonesia semakin dikenal di kancah internasional. Dengan upaya kolaborasi antara tradisi dan inovasi, batik bakaran Juwana membuktikan, bahwa warisan budaya dapat terus hidup dan berkembang, memberikan inspirasi bagi generasi dari masa ke masa.

Akhirnya, Kabupaten Pati layak berbangga karena tampil sebagai salah satu pusat kreasi batik terkemuka di Indonesia. Dan semoga batik bakaran Juwana akan senantiasa hadir di tengah masyarakat, tumbuh dan berkembang dalam khazanah batik Nusantara. (*)

Mohammad Fahtur Rohman,

Penulis adalah mahasiswa PPL Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) IAIN Kudus.

Comments