Manuskrip Daun Lontar di Museum Jenang

0
1027
Manuskrip daun lontar di Museum Gusjigang Kudus/ Foto: istimewa

Museum Jenang/ Gusjigang merupakan salah satu museum yang terletak di kota kudus. Museum jenang/gusjigang terdiri dari dua lantai, dilantai pertama berisi tentang makanan kuliner khas kudus yakni jenang mobarok food. Setelah naik tangga dan masuk ke ruang museum kita akan di perlihatkan dengan interior ruangan yang klasik dan indah.

Dari yang pertama terdapat replika miniatur menara kudus yang sangat cantik dan indah. Setelah melewati replika menara kudus, terdapat rumah adat kudus atau yang sering disebut dengan joglo kudus yang tidak kalah cantik dan indah. Di sebelah kanan rumah joglo kudus terdapat lorong yang dihiasi dengan mainan mainan zaman dahulu.

Apabila masuk lebih dalam lagi kita akan diperlihatkan dengan beberapa macam ruangan, yang terdiri dari foto bupati dari masa kemasa, rumah kapal, hingga al-qur’an yang berukuran raksasa. Di dalam ruangan al-qur’an terdapat beberapa macam al-qur’an pada masa dahulu. Salah satunya adalah Manuskrip daun al-qur’an daun lontar

Manuskrip Al-quran daun lontar merupakan sebuah al-qur’an yang ditulis diatas daun lontar. Mengapa harus daun lontar? Karena pada zaman dahulu belum ada kertas sehingga dipilihlah daun lontar, karena daun lontar merupakan salah satu daun yang tahan dari berbagai cuaca hingga gigitan rayap.

Manuskrip al-qur’an ini diperkirakan berumur 3 abad(300 tahun), berukuran besar dan terdiri dari 30 juzz, halaman dan sampul terbuat dari pelepah daun pohon lontar. Setiap halaman terdiri dari 16-19 daun lontar, dan setiap daun berukuran kurang lebih 4 – 35 cm.

Manuskrip Al-Qur’an daun lontar ini disatukan menjadi satu halaman menggunakan benang pada sisi-sisinya, serta dilapisi dengan pelepah pohon lontar pada bagian tengahnya agar kuat sehingga dapat membentuk seperti buku.

Dan ditulis menggunakan pangutik, semacam alat khusus logam yang dipanaskan, pada zaman dahulu alat ini dipakai secara tradisional untuk menorehkan tulisan aksara jawa kawi. Manuskrip ini belum menggunakan tanda baca syakl (fathah, kasroh, dhomah, dll) bisa disebut juga dengan al-qur’an gundul.

Manuskrip al-qur’an daun lontar ini merupakan salah satu koleksi Bapak panji Hanief gumilang untuk museum jenang dan wisata edukasi gusjigang (galeri al-qur’an mubarok food 2019).

Menurut cerita Bapak Kirom manuskrip ini didapatkan di desa Undaan, kecamatan Undaan Kabupaten Kudus. Yang diturunkan secara turun menurun, sampailah keturunan yang ke 7 manuskrip itu ditawar/dibeli untuk dirawat/dijaga dimuseum. Untuk penulis manuskrip daun lontar ini belum diketahui, karena manuskrip tersebut didapat pada keturunan ke 7 yang dimana untuk mengetahui penulisnya kita harus mengetahui kurang lebih 300 tahun yang lalu (pada masa wali songo). Manuskrip al-Qur’an daun lontar ini memiliki keuinikan tersendiri yakni sebagai syarat kelulusan dalam berguru.

Hingga sampai sekarang manusrip al-qur’an daun lontar ini masih terususun rapi dan bersih di dalam museum jenang/wisata edukasi gusjigang. (*)

Penulis: Wisnu Riyo Hadi Purwanto, Nabilla Ilmiyatus Sholihah dan Muhammad Rama Ardika. Ketiganya merupakan mahasiswa Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir pada Fakultas Ushuluddin IAIN Kudus.

Catatan:

Materi tersebut merupakan kiriman dari tiga penulis, dan redaksi tidak bertanggung jawab atas materi tersebut.

Comments