Jihad Santri, Berharap ‘Berkah’ Kiai di Bulan Suci

0
800

Oleh: Novi Widiyanti

Ramadan merupakan salah satu bulan yang dinantikan. Bulan penuh keberkahan, bulan kerinduan dan bulan limpahan ampunan ini menjadi bulan perlombaan bagi umat muslim di seluruh dunia.

Begitu pula dengan santri/ santriyah. Istilah ngabdi `mengabdi`, triman `menerima`, ngalap berkah `mengharap berkah` sepertinya sudah melekat dalam hati dan menjadi jati diri mereka.

Sebagian santri/ santriyah lebih nyaman dan memilih menghabiskan waktunya di lingkungan pesantren. Momentum Ramadan tidak menjadikannya lengah dan lemah, tetapi justru semakin gencar mencari keberkahan di bulan suci melalui keridaan guru dan para kiai. Ngaji pasanan, misalnya, menjadi jadwal harian setiap Ramadan datang.

Ramadan fii Ma’had tidak menyurutkan semangat para santri/ santriyah. Di samping thalabul ilmi, mereka juga berambisi mencari keberkahan di bulan suci ini. Lantas, bagaimana mereka bisa mendapatkan keberkahan itu?

Ngalap (mencari) berkah, mengharap keberkahan atau istilahnya `Tabarrukan` adalah salah satu hal yang lumrah di lingkungan pesantren. Di kalangan santri tabarrukan kepada guru sudah menjadi momentum yang sangat dinanti dan diminati. Sehingga, terkadang menjadi ajang rebutan untuk memperoleh berkah guru dan para kiai.

Semisal, saat ngaji pasanan yang biasanya diselenggarakan setelah salat tarawih maupun saat waktu sahur. Para santri/ santriyah berebut air minum yang disediakan untuk kiai dan segera akan meminumnya. Mereka tak enggan meminum air bekas guru maupun kiainya.

Tidak hanya itu saja, mencium tangan guru, membalikkan sandal guru hingga menggelar sajadah yang di tempat yang beliau lalui merupakan beberapa usaha tabarrukan mereka.

Seperti yang diucapkan oleh Ibnu Hibban dalam shahihnya:

ِكْرُ مَا يُسْتَحَبُّ لِلْمَرْءِ التَّبَرُّكُ بِالصَّالِحِينَ، وَأَشْبَاهِهِمْ

“Kesunnahan bagi mereka bertabarruk pada orang saleh dan orang yang serupa dengan orang saleh.”

Ada pula sepenggal kata dari guru saya, Abah Hamdan Rois “Nunuto wong adol minyak, senajan awakmu gak melu adol tapi wangi ne bakal tetep melu katut

(Ikutlah orang yang berjualan minyak, meskipun dirimu tidak berjualan tapi wanginya akan mengikutimu)

Sebagian santri/ santriyah percaya dengan taat kepada gurunya, bahwa keridaan kiai, akan menjadi keberkahan bagi dirinya.

Apalagi pada Ramadan ini, yang setiap amal kebaikan akan dilipatgandakan. Setiap satu amal kebaikan akan dilipatkan dengan sepuluh kebaikan. Apalagi kalau banyak ya?

Begitulah beberapa kebiasaan tabarruk yang dilakukan oleh santri/ santriyah, memang sudah menjadi budaya tersendiri. Tentunya, perilaku tersebut hanyalah untuk memperoleh keberkahan dari guru.

Bagaimana teman-teman, sudahkan kita menghormati guru dan kiai kita hari ini? Wallahu a`lam. (*)

Novi Widiyanti,

Santriyah Ma’had Prisma Quranuna Kudus dan mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) IAIN Kudus.

Comments