Bersama Berperan Atasi Covid – 19 di Era Adaptasi Baru

0
639

Oleh: Kholidia Efining Mutiara

Sadar atau tidak, perbincangan Covid – 19 yang terus menjejaki media massa, sangat berdampak pada psikologi manusia. Setidaknya ada dua kutub psikis yang berseberangan. Pertama, orang menjadi takut secara berlebihan. Kedua, orang menjadi tidak peduli, sebab bosan dan menganggapnya sebagai rekaan.

Dinamika itu mengalami fluktuasi, seiring dengan kondisi ketidakpastian yang dialami seperti sekarang ini. Kejenuhan pun melanda banyak kalangan.

Lewat setengah tahun sudah, masyarakat terus dijejali dengan pola kehidupan baru yang dilematis. Satu sisi mereka harus menerapkan protokol kesehatan yang ketat, melakukan aktivitas dari rumah dan serba-online.

Di sisi lain, fasilitas pendukung pola kehidupan yang seperti itu belum terpenuhi maksimal. Beragam keluhan muncul. Mulai dari soal buruknya jaringan internet, ketersediaan ponsel, termasuk pula keluhan karena merasa susah mengasuh anaknya sendiri di rumah.

Di dunia Pendidikan, utamanya, pola adaptasi kebiasaan baru seolah menjadi obyek persoalan dan menjadi musuh bersama. Alih-alih bekerja sama, guru dan orang tua tak jarang justru saling menyalahkan, sebab perubahan pola belajar yang ada.

Padahal jika mau berpikir lebih jernih, pola kebiasaan baru ini hanyalah evolusi yang tinggal menunggu waktu, kapan bisa tersesuaikan dengan kebutuhan.

Apa susahnya, misalkan, harus menggunakan masker atau face shield, atau segera cuci tangan setelah memegang apapun, membiasakan pola hidup yang bersih dan sehat. Bukankah sebenarnya itu yang memang sudah diajarkan sejak dulu agar kita tidak gampang terkena virus atau penyakit?

Hanya saja, untuk aktivitas daring, memang membutuhkan waktu agar terbiasa. Namun itu pun bukan masalah serius, sebenarnya.

Ini hanya persoalan gagal paham iptek (gaptek). Orang Jawa memiliki ungkapan “pinter anake ketimbang bapake” dalam hal teknologi. Sehingga ketika anak didik diberi tugas secara daring, orang tua tidak begitu paham untuk menyampaikan kepada anak. Tidak jarang juga memang dari faktor anaknya yang “terlalu pintar main ponsel”, sehingga abai dan lebih memilih main game.

Relasi Sosial

Pendidikan adalah alat paling efektif dalam menyosialisasikan pola kebiasaan baru ini. Betapa tidak, bidang ini memiliki elemen yang lengkap, termasuk relasi sosial, guna membangun kesadaran publik dalam beradaptasi terhadap kebiasaan baru.

Ketika sebuah lembaga memberlakukan protokol kesehatan yang ketat untuk semua anak didiknya, misalnya, bukan tidak mungkin hal itu juga akan menular pada orang tua. Orang tua pastilah ingin memberikan contoh yang baik kepada putra-putrinya, agar tujuan pendidikan dapat tercapai.

Maka sebenarnya, ini hanya soal bagaimana cara kita, mencari solusi kreatif dan inovatif agar semua bisa bersatu padu dalam mengatasi pandemi. Juga soal bagaimana kita tetap memiliki prasangka baik kepada semua pihak, baik pemerintah, lembaga dan tenaga kesehatan serta pemangku kebijakan yang lain agar tercipta gerakan yang sinergis dan harmonis dalam mengatasi pandemi.

Dan, yang paling penting, adalah tentang mengambil hikmah dan saling sadar diri atas segala kepayahan yang menimpa hampir seluruh negara sedunia. Masing-masing harus mengambil peran, agar semua masalah Covid – 19 bisa teratasi. (*)

Kholidia Efining Mutiara,
Penulis adalah pendidik Madrasah Ibtidaiyyah Terpadu (MIT) Al-Falah Kalinyamatan Jepara dan bergiat di Paradigma Institute, Kudus.

Comments