Waketum PBNU Sebut Kudus Tempat Mencetak Para Hafidz Qur’an

0
828
Wakil ketua umum PBNU KH. Zulfa Musthofa menyampaikan mauidhah hasanah di pondok pesantren Rahmatillah 2 Gondosari Gebog Kudus, Sabtu malam.

KUDUS, Suaranahdliyin.com – Wakil Ketua Umum (waketum) PBNU KH. Zulfa Musthofa menghadiri Haflah Khotmil Qur’an – Wisuda Perdana pondok pesantren Rahmatillah 2, desa Gondosari Gebog Kudus,  Sabtu malam (24/9/2022). Pada kesempatan itu, KH. Zulfa meresmikan gedung unit 3 Ponpes Rahmatillah 2 dengan menggunting pita dan penandatanganan prasasti.

Dalam mauidhah hasanahnya, KH Zulfa Musthofa, menyampaikan, keunggulan kota Kudus yang masyhur sebagai kota tempat mencetak para Hafidzul Qur’an.
“Kudus layaknya Tharim sebagai tempat wali yang jumlahnya sebanyak orang bernafas, sedangkan Kudus adalah tempat hafidz Qur’an yang jumlahnya sebanyak nafas orang bernafas,” ujarnya.

KH Zulfa juga menambahkan, salah satu kekayaan yang dimiliki NU adalah organisasi yang paling banyak memiliki ulama dan kader kader ulama pesantren. Data yang ada di Kemenag jumlah pondok di bawah naungan NU adalah 32000 pondok pesanten.

“Itu baru yang terdaftar, saya ponpes yang yang belum didaftarkan lebih banyak,” imbuhnya.

Dirinya mendefinisikan bahwasanya pesantren merupakan NU dalam lingkup kecil, sedangkan NU adalah pesantren dalam lingkup besar. “Kalau ingin lihat ajaran dan besarnya Nahdlatul Ulama maka lihatlah pesantrennya.”tandasnya.

Menurut KH Zulfa, ada tiga hal klaster pondok pesantren NU yakni pondok qur’an, pondok kitab, pondok thoriqoh. “Karena sejak dulu ulama NU, khidmahnya di bidang keagamaan di bidang pesantren,” jelasnya.

Dirinya juga mengingatkan agar para santri bisa merawat hafalannya dengan baik, sebab kalau tidak dirawat gampang lupa.

“Semoga yang diwisuda diberi kemudahan untuk merawat hafalannya karena ini baru sampai tahap menghafal belum memahami Alquran,” harapnya.

Sementara itu, Pengasuh Pondok, KH Abdul Manan, mengingatkan sembilan santri hafidz agar lebih hati-hati dan lebih rajin nderes Qurannya. “Semua anak-anak sekarang sudah hafal Alquran, harus lebih hati-hati dan lebih sregep nderesnya,” tuturnya.

Perihal periode menghafal, KH Abdul Manan, merujuk dalam Kitab At Thibyan, para sahabat Rasulullah ada yang menghafal dua hari, 3 hari, satu minggu, setengah bulan.

“Ada santri belum tamat MI sudah hafal,” imbuhnya.

KH Manan juga mengajak wali santri turut mengingatkan anak-anaknya agar turut menjaga hafalannya. Nabi Muhammad SAW mengingatkan dalam hadisnya perihal menjaga Alqur’an dengan membaca dan mengamalkannya.

“Ujiannya orang hafal Alquran adalah rasa males,” ujar KH Manan.

Hadir dalam acara tersebut, pengasuh Pesantren Yanbu’ul Qur’an Kudus KH. Ulin Nuha Arwani, Rais PCNU Kudus KH Ulil Albab Arwani, Katib PCNU Kudus KH Amin Yasin, KH Hasan Fauzi, dan Syekh Fikri Tariq dari Jakarta.(umi/adb) 

Comments