
TEMANGGUNG, Suaranahdliyin.com – Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung menggelar Seminar Nasional Pengusulan KH. Subuki sebagai Pahlawan Nasional di Hall Babussalam NU Temanggung, Kamis (15/10/2026). Forum akademik ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat kajian sejarah, menghimpun bukti perjuangan, dan membangun sinergi lintas lembaga guna mendorong pengakuan negara terhadap jasa ulama asal Parakan tersebut.
Seminar Nasional ini merupakan hasil kerjasama antara INISNU Temanggung, AKPER Alkautsar, Badan Penyelenggara Pelaksana (BPP) INISNU Temanggung, Nata Parakan Luwes (NPL), PCNU Temanggung, KBIHU Babussalam NU Temanggung yang menghadirkan Direktur Pemberdayaan Potensi dan Sumber Daya Sosial Kementerian Sosial RI Dr. Salahuddin Yahya, anggota Komisi VIII DPR RI H. Wibowo Prasetyo, sejarawan dan dosen UIN Walisongo Semarang Dr. KH. Anasom, serta sejarawan Temanggung KH. Adhilin Basri.
Dukungan terhadap pengusulan KH. Subuki, yang dikenal dalam sejarah perjuangan Parakan melalui gerakan bambu runcing, juga disampaikan Bupati Temanggung Agus Setyawan. Sementara itu, Wibowo Prasetyo menyatakan kesiapannya mengawal proses pengusulan melalui fungsi pengawasan dan koordinasi dengan Kementerian Sosial.
Ketua Badan Penyelenggara Pelaksana (BPP) INISNU Temanggung, H. Nur Makhsun, menjelaskan bahwa inisiatif pengusulan KH. Subuki sebagai Pahlawan Nasional merupakan bagian dari tanggung jawab akademik dan kepedulian terhadap sejarah perjuangan ulama dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Menurutnya, KH. Subuki merupakan tokoh penting dalam sejarah perjuangan rakyat Temanggung. Kontribusinya perlu diteliti lebih jauh untuk memperlihatkan hubungan antara perjuangan di Parakan dan dinamika revolusi kemerdekaan di berbagai wilayah.
“INISNU diharapkan dapat mengambil peran dalam menghimpun dokumen sejarah, mengembangkan penelitian, dan memperkuat naskah akademik sebagai bagian dari proses pengusulan.”ujarnya.
Sementara Rektor INISNU Temanggung Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., menegaskan pengusulan itu harus dibangun melalui kerja akademik yang serius, berbasis bukti, dan berkelanjutan. Menurutnya, seminar nasional tidak boleh berhenti sebagai forum diskusi, tetapi perlu menjadi titik tolak bagi gerakan penelitian dan dokumentasi sejarah yang terorganisasi.
“Pengusulan Pahlawan Nasional bukan semata-mata tentang memberikan gelar kepada seorang tokoh. Lebih dari itu, ini merupakan ikhtiar akademik untuk menghadirkan keadilan sejarah, menguji bukti perjuangan secara objektif, dan memastikan kontribusi para ulama dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia memperoleh perhatian yang semestinya,” tegasnya.
Dikatakannya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab penting dalam menjembatani ingatan kolektif masyarakat dengan pembuktian sejarah yang memenuhi standar akademik.
“Cerita perjuangan yang diwariskan secara turun-temurun perlu ditelusuri melalui arsip, dokumen, kesaksian, sumber tertulis, serta penelitian sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.” ungkapnya.
Ia menilai Temanggung mempunyai tanggung jawab moral sekaligus akademik untuk merawat sejarah perjuangan KH. Subuki. Sebagai institusi pendidikan tinggi yang tumbuh di lingkungan masyarakat dengan tradisi keislaman dan ke-NU-an yang kuat.
“INISNU siap mengambil peran dalam mengembangkan penelitian, menghimpun sumber sejarah, dan memperluas literasi sejarah perjuangan bangsa.” tandas Ibda.(ist/adb)




































