Diklat Sastra GLM
Sastrawan Asia Tenggara Ini Bagikan Tips Menulis Puisi dan Cerpen

0
164
Muhammad Rois Rinaldi dalam webinar Gerakan Literasi Ma’arif PWNU Jateng

SEMARANG, Suaranahdliyin.com – Menulis puisi dan cerpen bukan hal yang mudah, meski juga tak bisa dibilang sulit. Kuncinya ada pada imajenasi dan ketepatan dalam mengungkapkan sebuah ekspresi. Hal itu mengemuka dalam Pendidikan dan Pelatihan Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) part 3, Senin (22/6/2020).

Pada kesempatan ini, sastrawan Asia Tenggara Muhammad Rois Rinaldi menyampaikan materi tentang puisi. Penerima Piala Bergilir Nik Zafri di Kuala Lumpur pada Desember 2014 ini juga menjelaskan beberapa kesalahan umum penulis pemula dalam menulis puisi.

Pertama, tidak ada yang ingin disampaikan atau menyampaikan sesuatu yang telah disampaikan banyak orang dengan cara yang sama. Kedua, sering menggunakan kata abstrak dibandingkan kata konkret. Ketiga, pembuka puisi dibuat bertele-tele. Keempat, atas nama licentia poetika, sering melabrak konvensi tanpa memberikan tawaran pembeda. Kelima, metafora yang berfungsi mengkonkretkan puisi dijadikan dalih menciptakan puisi tanpa gambaran konkret.

“Puisi itu tidak sekadar masalah kebebasan berekspresi, tapi lebih pada ketapatan,” kata sastrawan yang pernah dinobatkan sebagai Tokoh Sastrawan Asia Tenggara oleh eSastera pada Desember 2015 di Kuala Lumpur tersebut.

Agar tidak terjebak pada kesalahan umum itu, imbuh Rois, pertama harus menghindari sentimentalitas. Kedua, gunakan imaji. Ketiga, gunakan kata-kata lonkret. Keempat, pahami sub-sub genre puisi. Kelima, puisi selalu memiliki tema. Keenam, hindari klise. Ketujuh, maksimalkan penggunaan metafora dan simile untuk mengkonkretkan hal-hal abstrak.

“Seni penulisan bukanlah soal tata bahasa, meski bahasa tidak dapat tidak adalah medianya,” jelas Juara I Lomba Menulis Puisi 3 Negara tahun 2012 tersebut.

Sementara itu cerpenis Eko Sam lebih banyak membahas cara membuat cerpen dan menajamkan imajenasi. Seorang cerpenis, kata dia, rata-rata memiliki pembacaan terhadap segala fenomena dengan penuh pemaknaan.

“Misal saja, ia melihat seekor semut yang tengah berenang-renang di dalam cangkir kopi yang hendak diseputnya. Bagi penulis cerpen, hal itu bisa jadi cerita menarik jika pemaknaannya berbeda,” ujar anggota Tim GLM LP Ma’arif PWNU Jateng itu.

Koordinator GLM Hamidulloh Ibda mengatakan bahwa kegiatan kuliah sastra ini merupakan Diklat GLM part 3 yang fokus pada karya sastra. “Program GLM ini sudah terlaksana yang ketiga dan via webinar dan akan berakhir pada bulan Agustus 2020,” kata dia.

Usai pemaparan dari dua pemateri, kegiatan dilanjutkan dengan tanya jawab serta tindaklanjut berupa peminatan. (ibd/ rid)

Comments