Ranggawarsita, Santri – Pujangga Murid Kiai Kasan Besari

0
257
Kover buku tentang Ranggawarsita karya Agus Wahyudi

Nama Raden Ngabehi (R. Ng) Ranggawarsita, bagi sebagian kalangan, khususnya yang bergelut di dunia sastra – budaya, bukanlah nama yang asing. Namun kalangan santri saat ini, mungkin masih banyak yang asing dengan nama itu. padahal, dia adalah seorang santri.

Nama kecilnya adalah Bagus Burham, yang lahir pada 1802. Dia adalah seorang bangsawan, yang merupakan putera dari R. Ng. Panjangswara (Ranggawarsita II). Ranggawarsita II adalah putera R. Ng. Sastranegara (Ranggawarsita I) yang bergelar R. Ng. Yasadipura II.

Dijelaskan oleh Agus Wahyudi dalam ‘’Zaman Edan Ranggawarsita: Menaklukkan Hawa Nafsu di Zaman yang Tak Menentu’’, Ranggawarsita lahir dari keluarga pujangga yang taat beragama (Islam) dengan dasar tasawuf Jawa.

Pada usia 12 tahun, Bagus Burham dikirim untuk belajar di Pondok Pesantren Gebang Tinatar, Tegalsari, Ponorogo di bawah asuhan Kiai Kasan Besari (menantu Kanjeng Susuhunan Pakubuwana IV).

Semasa kecil, Bagus Burham dikenal sebagai anak bengal (nakal). Kebengalannya itu terbawa juga ketika ia di pesantren, sehingga membuat Kiai Kasan Besari prihatin. Terlebih, Bagus Burham itu adalah cucu dari sahabatnya.

Penuh liku – liku, sampai kemudian Ranggawarsitas alis Bagus Burham itu kemudian menemukan titik balik, dari sosok bengal yang selanjutnya menjadi santri yang tekun belajar dan rajin tirakat. Dikisahkan, ia pernah melakukan tirakat di sebuah sumber Kedung Watu selama 40 hari. selama tirakat, ia hanya makan satu buah pisang saja setiap harinya.

Dalam berbagai literatur dicatat, berbagai karyanya antara lain adalah Serat Aji Pamasa, Serat Candrarini, Serat Cemporet, Serat Jaka Lodang, Serat Jayengbaya, Serat Kalatidha, Serat Panitisastra, Serat Pandji Jayeng Tilam, Serat Paramasastra, dan Serat Paramayoga.

Selain itu, ia juga menulis Serat Pawarsakan, Serat Pustaka Raja, Suluk Saloka Jiwa, Serat Wedaraga, Serat Witaradya, Sri Kresna Barata, Wirid Hidayat Jati, Wirid Ma’lumat Jati, Serat Sabda Jati.

Santri Kiai Kasan Besari yang dikenal sebagai pujangga terakhir Tanah Jawa ini, wafat pada 24 Desember 1873 di usia 71 tahun, dan dimakamkan di Desa Palar, Klaten. (Rosidi, dari berbagai sumber)

Comments