Pintu Tajally dalam Rumah Ramadan 

0
1084

Oleh: Nurul Ainiyah

Pada Selasa, 26 Maret 2024 M/ 15 Ramadan 1445 H lalu, sudah masuk di pertengahan Ramadan. Rasa syukur dan nikmat sudah dirasakan oleh umat islam. Bulan yang di kenal dengan bulan penuh berkah, maghfirah (ampunan), dan penuh dengan kebahagiaan di dalamnya.

Lisshoimi farhatani farhatun inda iftorihi wa farhatun inda liqoi robbihi. Begitu banyak jaminan kebahagiaan di bulan suci ini.

Sebagaimana dalam hadis yang menyebutkan bahwasanya orang yang puasa memiliki dua kebahagiaan. Kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Tuhannya.

Sungguh asyik, bukan? Keberkahan dan kebagian dalam bulan suci ini. Makanan yang biasa terlihat di depan mata pun nampak spesial ketika di bulan suci Ramadan. Kebahagiaan kecil pun nampak begitu berarti di bulan suci Ramadan. Segala bentuk kebaikan di lipat gandakan. Dan masih banyak lagi keberkahan yang sudah tertulis di bulan istimewa ini.

Selain bulan berkah, Ramadan pun disebut sebagai bulan maghfirah. Bulan ampunan bagi seluruh hambanya. Sepatutnya, seorang hamba yang baik akan selalu merasa bahwa dirinya penuh dosa dan hina dengan semua keterbatasannya.

Dikatakan bahwa, “Lebih baik hati yang merendah karena malu akan maksiat, daripada hati yang meninggi  karena sombong akan ibadah”.

Begitulah ungkapan yang bisa kita gunakan, dalam seni merayu Tuhan. Selalu merasa hina, merasa memiliki kelemahan dan selalu ingin menjadi lebih baik. Saatnya kita bermuhasabah (mengintropeksi diri) untuk memaksimalkan ibadah. Menggapai maghfirah dan keberkahan dari sang maha kuasa.

Takhalli, Tahalli, dan Tajalli. Trilogi konsep tasawuf yang sering kita dengar di bangku sekolah. Tidak ada salahnya jika kita mulai mengingat dan menerapkannya kembali. Takhalli adalah pembebasan diri dari sifat-sifat tercela.

Memasuki setengah bulan Ramadan ini, saatnya kita bermuhasabah (introspeksi diri) kembali. Mengingat sifat-sifat tercela apa yang masih sering kita lakukan. Sedikit demi sedikit kita tinggalkan. Untuk membebaskan diri ini dari sifat-sifat tercela.

Tahalli merupakan tahapan mengisi dan menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji. Ramadan adalah momentum dimana semua sifat terpuji akan di lipat gandakan. Oleh karena itu, pembiasan sifat terpuji dari hal yang terkecil akan dinilai besar pada bulan mulia ini. Hal -hal kecil yang sering kita lakukan. Sedikit demi sedikit akan menjadi kebiasaan dan kemudian akan menjadi adat diri kita.

Terakhir, Tajalli, yaitu penghayatan rasa ke-Allah-an (NgAllah) di dalam diri kita. Merasa bahwasanya Allah selalu melihat kita. Dan kita selalu merasa dilihat oleh Allah dimanapun kita berada. Melakukan sesuatu hanya karena Allah dan untuk Allah.

Dengan begitu, maka kita dapat meminimalisasi rasa berharap terhadap manusia. Atau bahkan merasa hidup kita sia-sia. Tahan ini berarti kita telah membuka pintu tajally dalam rumah Ramadan. InsyaAllah. (*)

Nurul Ainiyah,

Santriyah Prisma Quranuna Kudus/ Mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa Arab IAIN Kudus.

 

 

Comments