Menilik Kesiapan Digitalisasi Pendidikan di Tengah Pandemi

0
412
Dok.pribadi

Oleh Kholidia Efining Mutiara

Suaranahdliyin.com – Wabah yang kini sedang melanda dunia, yakni Covid-19, menuai dampak negatif dan positif. Negatifnya tentu kita tahu bersama pendemi ini mengancam kesehatan manusia dan menimbulkan gejolak sosial, ekonomi yang luar biasa.

Konon, pandemi seperti ini bukan pertama kalinya menyerang warga seluruh dunia. Sebelumnya, pada tahun 1720 muncul penyakit pes, tahun 1820 muncul pandemi colera, lalu pada 1920 terjadi lagi pes, dan kini yang terbaru Korona (Covid-19).

Sedang dampak positifnya, muncul solidaritas antar sesama warga. Memanfaatkan kemajuan teknologi dan informasi, banyak orang saling berempati, mengingatkan bahaya, mengajak semua pihak bekerjasama hingga membantu kebutuhan logistik dan gerakan kebersihan serentak di seluruh Indonesia.

Kendati ada beberapa yang gagal paham dan mengakibatkan debat kusir itu soal lain yang akan diulas pada tulisan ini. Dalam dunia pendidikan misalnya, pemerintah memutuskan untuk mengisolasi semua pelajar dan menganjurkan kepada tenaga pendidik untuk tetap memantau pembelajaran siswa-siswinya masing-masing.

Atas maklumat pemerintah itu beberapa pihak mengeluh sebab terbatasnya akses dan penguasaan teknologi yang kurang. Keluhan juga datang dari siswa dan orang tua yang merasa terbebani dengan banyaknya tugas online dari gurunya.

Tampak lah, jika pendidik maupun peserta didik belum sepenuhnya siap menerima digitalisasi pembelajaran ini. Misalnya mengenai pemberian tugas yang tiap hari, jelas saja, bukan hanya murid yang berat menjalankannya, guru atau pendidik pun tentu akan jenuh dengan sendirinya, belum lagi pihak orang tua yang belum tentu selalu sigap mengawasi pembelajaran anak.

Maka dalam hal ini, perlu adanya kesalingan paham, persamaan visi dan target yang hendak dicapai. Dengan begitu digitalisasi pendidikan akan terlaksana secara baik dan minim hambatan, khususnya pada sekolah jenjang dasar dan menengah.

Pihak orang tua maupun pendidik harus bisa menuntun anak agar dapat mengikuti pembelajaran digital dengan baik dan menyenangkan. Anjuran untuk #dirumahaja hendaknya benar-benar dimanfaatkan untuk menemani buah hati demi menunjang tumbuh kembang serta kemajuan pendidikan anak.

Sedangkan pihak tenaga pendidik juga hendaknya bisa tepo seliro. Yaitu dengan tidak memberikan pekerjaan rumah (PR) dalam jumlah yang banyak.

Pembelajaran di rumah tidak melulu tentang PR dan tugas-tugas yang membuat jenuh. Banyak cara kreatif yang bisa ditempuh untuk memberi edukasi terhadap anak didik. Seperti membuat konten video dan challenge ringan untuk melatih keterampilan anak.

Misalnya lagi dengan melakukan pengamatan tentang benda-benda yang ada di dalam rumah, membuat proyek kecil, membaca serta memahami cerita, kemudian divideokan hasilnya sehingga tidak melulu mengerjakan tugas yang bentuknya teramat kaku.

Masalahnya, masih banyak dari orang tua maupun pendidik yang tidak memiliki gawai atau gagal paham teknologi (gaptek). Selain itu, sebagian orang tua justru “kalah” dengan keinginan anaknya dalam memainkan ponsel. Alih-alih bermanfaat untuk pembelajaran, yang ada justru mengakses game online dan timbul kecanduan.

*) Kholidia Efining Mutiara, pendidik di MIT Al-Falah Kalinyamatan Jepara, mahasiswi MPI Pascasarjana IAIN Kudus

Comments